JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Penipuan daring di Indonesia makin mengkhawatirkan. Data Global Anti-Scam Alliance mencatat kerugian akibat spam dan scam di RI tembus Rp7,5 triliun.
Modusnya ikut berubah cepat. Pelaku kini memakai Artificial Intelligence (AI) dan deepfake untuk memperdaya korban, terutama lansia, lewat suara tiruan, video palsu, sampai pesan yang tampak meyakinkan.
5 modus penipuan daring yang paling marak
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) dan Komdigi menunjukkan lima pola yang paling sering dilaporkan pada Juli 2026. Semua bermain di satu titik lemah yang sama yaitu korban dibuat panik, lalu diminta bergerak cepat tanpa sempat memeriksa ulang.
Modus pertama adalah deepfake dan AI voice call. Pelaku meniru suara keluarga, pejabat, atau atasan dalam kondisi darurat. Video call pun bisa dipalsukan, sehingga target mengira panggilan itu benar-benar datang dari orang dekat.
Modus kedua berbentuk phishing dan scam berkedok instansi. Nama BPJS, TASPEN, CORTEX pajak, hingga KKP dipakai untuk mengelabui korban. Dalam pola ini, pelaku biasanya mendorong korban menyerahkan PIN, OTP, dan data pribadi.
Modus ketiga menyamar sebagai investasi dan kerja online bodong. Iklan kerja bergaji tinggi di luar negeri dipakai sebagai umpan. Faktanya, korban justru dipaksa menjadi pelaku scam di Kamboja, Myanmar, hingga Afrika Barat.
Modus keempat mengandalkan QR code dan link berbahaya. Korban diarahkan memindai kode atau mengklik tautan yang mencuri data rekening dan OTP. Sekali lengah, data bisa langsung berpindah ke tangan pelaku.
Modus kelima memanfaatkan penyalahgunaan nomor SIM anonim. Nomor dipakai untuk spam call dan penipuan karena registrasi dilakukan dengan identitas palsu. Jalur ini membuat pelaku lebih sulit dilacak.
Korban yang dipulangkan belum tentu benar-benar lepas
Kementerian Luar Negeri mencatat 17.378 WNI dipulangkan dari pusat scam di luar negeri dalam periode Januari 2025 sampai Mei 2026. Angka itu menunjukkan jaringan penipuan ini bukan sekadar kasus individual, melainkan rantai lintas negara yang terus bergerak.
Yang membuat situasinya makin rumit, sebagian korban justru kembali bekerja di jaringan penipuan. Ada yang berangkat lagi ke Kamboja, ada juga yang langsung pindah ke negara ketiga. Artinya, putusnya satu lokasi belum tentu memutus pola perekrutan.
Fenomena ini penting karena memperlihatkan penipuan daring sudah masuk ke tahap industri. Korban tak lagi hanya kehilangan uang. Mereka juga bisa terseret ke jaringan kejahatan yang lebih luas, lalu ikut menyebarkannya ke lingkungan sekitar lewat cerita sukses palsu dan iming-iming kerja cepat.
Langkah pemerintah dan cara mengenali jebakan
Untuk memutus rantai penipuan, pemerintah mulai 1 Juli 2026 mewajibkan registrasi biometrik untuk semua aktivasi nomor baru. Prosesnya memakai face recognition dan dicocokkan dengan data Dukcapil agar nomor tidak bisa dipakai dengan identitas palsu.
Di jalur penindakan, IASC bersama 9 negara menggelar Operation FRONTIER+ pada Maret-Mei 2026. Hasilnya, 3.018 pelaku ditangkap, 138.000 kasus diungkap, dan 102.000 rekening dibekukan. OJK juga memperkuat Public-Private Partnership dengan PBB dan UNODC untuk tukar data dan intelijen lintas sektor.
Bagi masyarakat, pesan terpentingnya tetap sama yakni jangan pernah memberikan NIK, OTP, dan PIN lewat telepon atau WhatsApp ke orang tak dikenal. Instansi resmi seperti bank dan pemerintah juga tidak pernah meminta data lewat telepon. Kalau ada video call darurat dari keluarga, konfirmasi ke nomor aslinya. Cek pula apakah NIK disalahgunakan di aduannomor.id, lalu laporkan penipuan ke IASC, OJK, atau kkp.lapor.go.id melalui WA 08111146141.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.