Karena bodinya terlalu tipis, Face ID disebut tidak dipakai. Sebagai gantinya, Apple dikabarkan menaruh Touch ID di tombol power. Ada juga rumor warna Dark Cherry yang eksklusif. Detail seperti ini memang terlihat kecil, tapi di pasar Apple, justru sering jadi penentu citra.
Apple juga dinilai punya satu keunggulan lain yang tidak kalah penting: nilai jual kembali. Dalam draf rumor, iPhone disebut punya harga sisa yang lebih kuat dibanding Samsung Fold setelah dua tahun pemakaian. Bagi konsumen, faktor ini bisa mengubah kalkulasi total biaya kepemilikan. Harga awal tinggi, tapi kerugian saat dijual ulang bisa lebih kecil.
Tentu saja, semua ini masih sebatas rumor. Samsung sudah lima generasi lebih dulu di pasar ponsel lipat, dan harga $2,500 juga bukan angka yang ringan. Namun bila layar benar-benar nyaris tanpa lipatan, iOS 27 berjalan mulus, dan ekosistem Apple bekerja seperti yang diharapkan, iPhone lipat punya peluang masuk pasar bukan sebagai pengikut, melainkan penantang serius di kelas paling mahal.
Yang paling ditunggu kini bukan sekadar nama iPhone Ultra. Melainkan satu hal: apakah September 2026 akan jadi awal Apple di ponsel lipat, atau hanya babak baru dari rumor yang sudah beredar terlalu lama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.