JAKARTA SELATAN — Empat ruang kelas dan satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi telah ambruk selama dua tahun sejak 2024. Peristiwa itu terjadi pada 27 November 2024, tepat saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung dan sekolah sedang libur.
Pokok Peristiwa
Evi Afrida, orang tua siswa, menceritakan detik-detik kejadian yang mengejutkan itu. “Awalnya ya itu kejadian kan pas libur Pilkada. Jadi nggak ada yang tahu, penjaga sekolah pun nggak ada yang tahu. Warga sekitar aja yang tahu awalnya itu pagi hari sekitar jam 06.30 WIB. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba roboh,” ungkapnya kepada wartawan di lokasi sekolah, Selasa.
Malam harinya, hujan deras turun di sore hari hingga gedung sekolah itu perlahan runtuh. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, orang tua siswa tetap merasa khawatir mengingat bangunan yang terus menunjukkan tanda-tanda kerusakan berat bisa membahayakan lebih banyak orang.
Lokasi sekolah itu sendiri berada di Jalan K.H. Ismail, kawasan pemukiman padat penduduk. Saat pantauan dilakukan pukul 09.08 WIB, gerbang masuk sekolah nampak dikunci dan hanya dibuka satpam untuk akses masuk. Area sekolah terlihat lengang tanpa aktivitas mengajar dan belajar.
Konteks
Reruntuhan bangunan di sebelah kanan sekolah memperlihatkan atap genteng dan tiang penyangga yang jatuh menimpa berbagai peralatan sekolah seperti lemari, meja, dan bangku.
Hingga saat ini, orang tua terus meminta kejelasan kepada pihak sekolah terkait rencana perbaikan atau pembangunan kembali. “Ya dari sekolah sih sudah menindaklanjuti, lapor ke Dinas sudah, sudah lapor itu. Cuman memang sampai saat ini belum ada kepastian tindak lanjut,” kata Evi.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Dampak nyata dari robohnya gedung sekolah sudah terasa pada rutinitas anak-anak. Sejak peristiwa itu, aktivitas mengaji di sekolah menjadi terhenti. Dengan sistem pembelajaran yang kini dimulai siang hari sebagai solusi sementara, anak-anak yang dulunya aktif mengaji menjadi jarang melakukannya.
“Karena kan sekarang masuknya siang, jadi anak-anak yang tadinya ngaji sekarang jarang yang ngaji. Sudah dua tahun tidak ngaji lagi gitu,” jelasnya.
Evi berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turun tangan membantu sekolah agar dapat dibangun kembali menjadi lebih baik dan nyaman bagi para siswa. Dua tahun sejak runtuh, belum ada solusi konkret yang terlihat. Kekhawatiran akan keselamatan terus menghantui, apalagi bangunan yang sudah rusak parah tetap berdiri tanpa penanganan segera di tengah pemukiman yang ramai.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.