Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Musala dan Lapangan Jadi Tempat Belajar Siswa SDN Kebayoran Lama 09 Jaksel yang Roboh 2 Tahun

Musala dan Lapangan Jadi Tempat Belajar Siswa SDN Kebayoran Lama 09 Jaksel yang
Foto: Viva

Dinding musala kini beralih fungsi menjadi papan tulis darurat. Di sana, puluhan siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi berdesakan menyerap ilmu, jauh dari kenyamanan ruang kelas yang seharusnya. Sudah dua tahun berlalu, namun sisa bangunan yang ambruk pada 27 November 2024 itu seolah dibiarkan merana tanpa sentuhan perbaikan berarti.

Peristiwa nahas itu terjadi saat hujan deras mengguyur kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Empat ruang kelas dan satu ruangan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) rata dengan tanah dalam sekejap. Kala itu, perhatian publik sedang tersedot pada hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta, hingga kondisi mengenaskan di sekolah dasar ini luput dari radar perbaikan segera.

Dua Tahun dalam Keterbatasan

Evi Afrida, salah satu orang tua siswa, hanya bisa mengelus dada setiap kali mengantar anaknya ke sekolah. Ia menatap sisa puing dan kondisi ruang darurat yang memaksa buah hatinya serta siswa lain belajar di lapangan terbuka. Baginya, menunggu dua tahun tanpa kepastian renovasi total adalah bentuk kelalaian yang menyakitkan.

“Lama banget, padahal sekolahnya ini roboh bukan renovasi lagi. Ini benar-benar roboh, nggak layak banget. Miris lihatnya,” ujar Evi saat ditemui di lokasi, Selasa (25/2). Ekspresi wajahnya menyiratkan kelelahan fisik sekaligus mental karena harus memikirkan nasib pendidikan anaknya di tengah sarana yang hancur.

Sebelum bencana itu terjadi, orang tua siswa mengaku tidak pernah menaruh curiga bahwa bangunan sekolah akan kolaps. Perbaikan yang pernah dilakukan selama ini hanya sebatas perawatan rutin, seperti penggantian genteng dan penggunaan baja ringan.

Tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural serius yang sampai membuat gedung ambruk total. Namun, alam bicara lain. Hujan lebat sore itu membuktikan bahwa struktur bangunan yang sudah tua tidak lagi mampu menahan beban.

Belajar di Antara Puing dan Debu

Tanpa adanya gedung kelas, lapangan dan musala menjadi satu-satunya pelarian. Musala yang semestinya menjadi tempat ibadah yang tenang, kini riuh dengan suara guru yang mengajar dan tawa anak-anak yang mencoba fokus di tengah situasi sempit.

Jika siang hari tiba, udara panas menyengat sering kali membuat konsentrasi mereka buyar. Belum lagi saat hujan turun, aktivitas belajar mau tidak mau harus terhenti karena area tersebut tidak sepenuhnya terlindung dari tampias air.

Program sekolah lainnya ikut tumbang. Kegiatan mengaji yang rutin dilaksanakan di sekolah kini tertunda tanpa batas waktu yang jelas. Fasilitas UKS yang dulunya sigap menangani siswa sakit, kini hilang entah ke mana, membuat penanganan kesehatan dasar bagi anak-anak menjadi lebih sulit dilakukan.

Orang tua siswa bukannya diam. Mereka terus menanyakan nasib gedung sekolah kepada pihak pengelola. Jawaban yang didapat selalu sama: masih menunggu. Ketidakjelasan ini memicu kecemasan baru.

Bagaimana tidak, struktur bangunan yang masih tegak di sekitar puing reruntuhan justru terlihat rapuh dan mengkhawatirkan. Risiko kerusakan lanjutan atau ancaman keselamatan siswa selalu mengintai setiap hari.

Harapan mereka kini tertuju pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Evi dan para orang tua lain mendesak agar ada aksi nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Mereka memimpikan gedung sekolah yang kokoh, aman, dan nyaman untuk tempat anak-anak menimba ilmu. Pendidikan adalah hak dasar yang tak bisa ditawar, apalagi dikorbankan demi birokrasi yang lamban.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda alat berat akan masuk ke lokasi untuk memulai konstruksi. Siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi terpaksa tetap bertahan di bawah atap musala dan terik matahari lapangan. Mereka belajar bukan hanya tentang mata pelajaran di buku, tetapi juga tentang cara bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari ideal.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda