Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
BUDAYA

Hari Kebaya Nasional 2026 Jatuh 24 Juli: Sejarah, Makna & Cara Merayakannya

Hari Kebaya Nasional 2026
Hari Kebaya Nasional 2026 Jatuh 24 Juli: Sejarah, Makna & Cara Merayakannya. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COMHari Kebaya Nasional 2026 kembali diperingati pada Jumat, 24 Juli 2026. Peringatan ini menjadi yang ke-3 sejak resmi ditetapkan pemerintah.

Tahun ini, Hari Kebaya Nasional terasa lebih kuat gaungnya karena kebaya telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada Desember 2024, bersama Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Hari Kebaya Nasional dan penetapannya

Hari Kebaya Nasional diperingati setiap 24 Juli. Penetapan itu disahkan Presiden Joko Widodo lewat Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2023 yang ditandatangani pada 4 Agustus 2023.

Artinya, peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Negara memberi ruang khusus untuk menegaskan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang hidup di ruang publik, bukan hanya tersimpan di lemari atau tampil di panggung acara adat.

Catat juga, hari ini bukan hari libur nasional. Aktivitas kerja dan sekolah tetap berjalan seperti biasa, meski banyak instansi dan komunitas kerap memanfaatkan momen ini untuk mengenakan kebaya di kantor, kampus, maupun kegiatan daerah.

Sejarah 24 Juli Hari Kebaya Nasional

Tanggal 24 Juli dipilih karena punya makna historis. Salah satunya terkait Kongres Wanita Indonesia X 1964, saat Presiden Soekarno hadir dan seluruh perempuan peserta mengenakan kebaya sebagai simbol identitas perjuangan bangsa.

Selain itu, kebaya dipandang sebagai busana perekat bangsa lintas etnis di Nusantara. Pakaian ini juga dipakai dalam berbagai acara resmi, baik di dalam negeri maupun di forum luar negeri, sehingga posisinya melampaui sekadar busana tradisional.

Inisiatif Hari Kebaya datang dari Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia dan didukung Kemenko PMK. Dorongan itu akhirnya berujung pada penetapan resmi yang kini diperingati tiap tahun.

Makna Hari Kebaya Nasional bagi budaya dan ekonomi

Peringatan Hari Kebaya Nasional tidak berhenti pada ajakan memakai kebaya. Ada tiga tujuan yang melekat di dalamnya: melestarikan budaya, menumbuhkan rasa bangga, dan menggerakkan ekonomi kreatif.

Dari sisi budaya, kebaya dijaga agar tetap hidup di era modern. Dari sisi identitas, kebaya dipahami sebagai simbol keanggunan, ketangguhan, dan kelembutan perempuan Indonesia. Dari sisi ekonomi, peringatan ini ikut menghidupkan penjahit, pembatik, desainer, sampai perajin lokal.

Gerakan #KitaBerkebaya dari Bakti Budaya Djarum Foundation juga mendorong perempuan memakai kebaya sehari-hari, bukan hanya saat upacara atau perayaan khusus. Arah gerakannya jelas: kebaya dibawa lebih dekat ke kehidupan harian.

Ragam kebaya yang kerap dikenakan

Di peringatan Hari Kebaya Nasional 2026, pilihan model kebaya juga makin beragam. Kebaya Kartini dikenal paling populer karena sederhana dan anggun. Kebaya Kutubaru punya kain penghubung di dada dan lekat dengan tradisi Jawa.

Ada pula Kebaya Encim yang lahir dari akulturasi Tionghoa-Nusantara dengan ujung lancip, Kebaya Bali yang pas badan dan memakai obi di pinggang, Kebaya Janggan dengan kerah tinggi, serta Kebaya Cole khas Maluku yang diangkat PIM Maluku tahun ini.

Keragaman itu memperlihatkan satu hal penting: kebaya bukan pakaian tunggal yang seragam. Ia tumbuh dari banyak wilayah, banyak tradisi, dan banyak cara pandang.

Cara memperingati Hari Kebaya Nasional 2026

Bentuk peringatannya sederhana, tapi efeknya luas. Banyak orang memilih memakai kebaya ke kantor, sekolah, atau kampus. Di daerah, parade kebaya juga digelar, termasuk di Ambon, Maluku.

Sleman dijadwalkan menggelar peringatan pada 26 Juli 2026 di Pendopo Royal Ambarukmo. Di ruang digital, unggahan kebaya dengan hashtag #KitaBerkebaya dan #HariKebayaNasional ikut memperpanjang napas perayaan ini di media sosial.

Dukungan lain datang lewat belanja produk lokal. Saat orang membeli kebaya dari perajin setempat, perputaran ekonominya langsung terasa. Sederhana, tapi nyata. Dan di titik itu, Hari Kebaya Nasional tidak lagi berdiri sebagai seremoni tahunan semata, melainkan pengingat bahwa warisan budaya bisa hidup, dipakai, dan memberi penghidupan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda