Sabtu, 25 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Berebut Mineral Kritis: Ancaman Konflik di Balik Energi Bersih

Berebut Mineral Kritis
© ADB Three men pause in front of wind turbines in Sindh province, Pakistan

NEW YORK — Dunia saat ini tengah terkunci dalam perlombaan sengit memburu mineral kritis. Bahan mentah seperti nikel, kobalt, dan litium menjadi fondasi utama transisi energi global dari bahan bakar fosil menuju kendaraan listrik, turbin angin, hingga panel surya.

Namun, di balik ambisi hijau tersebut, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan peringatan keras bahwa perebutan sumber daya ini berisiko memicu konflik bersenjata dan ketidakadilan global.

Dalam debat yang berlangsung Rabu di Markas Besar PBB, para diplomat menyoroti paradoks mendalam. Banyak mineral berharga justru tersimpan di negara-negara yang rentan terhadap konflik, lemah dalam tata kelola pemerintahan, atau terjebak dalam kemiskinan ekstrem.

Jika tidak dikelola dengan benar, mineral ini bukan menjadi berkah, melainkan sumber pembiayaan bagi kelompok bersenjata, jaringan kriminal, hingga kerusakan lingkungan yang merugikan masyarakat lokal.

Risiko Perang dan Eksploitasi

Pesan utama yang mengemuka dalam pertemuan tersebut cukup tajam: mineral yang mendukung transisi energi hijau tidak boleh membiayai perang atau menjadi era baru eksploitasi yang tidak adil. Selama ini, banyak negara produsen hanya menjadi pengekspor bahan mentah tanpa menikmati nilai tambah ekonomi.

Praktik ini memicu kekhawatiran akan terulangnya pola kolonialisme di mana beban lingkungan dan sosial dipikul oleh masyarakat lokal, sementara keuntungan mengalir ke pihak luar.

“Geologi tidak memilih, tata kelolalah yang menentukan,” ujar perwakilan dalam forum tersebut, menekankan bahwa sumber daya alam bisa menjadi mesin kemakmuran atau justru pemicu predasi.

Seorang diplomat menegaskan bahwa negara dan masyarakat di lokasi pertambangan harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat dari kekayaan di halaman belakang mereka sendiri. Tidak boleh ada lagi penjarahan atas nama pembangunan teknologi canggih.

Transformasi Menuju Tata Kelola Transparan

Meskipun belum ada resolusi hukum mengikat yang diadopsi dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota mencapai konsensus politik mengenai urgensi transparansi rantai pasok.

Pelacakan sumber mineral menjadi mutlak untuk memastikan setiap gram bahan mentah tidak berasal dari penambangan ilegal yang didanai kelompok milisi. Negara produsen kini menuntut lebih banyak pemrosesan, pemurnian, hingga penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.

Republik Demokratik Kongo, yang memimpin presidensi Dewan Keamanan saat ini, mengusulkan pembentukan Kelompok Sahabat Tata Kelola Sumber Daya Alam.

Inisiatif ini direncanakan menjadi mekanisme dialog permanen yang mempertemukan negara produsen, konsumen, organisasi internasional, dan aktor ekonomi untuk merumuskan kebijakan yang lebih pragmatis.

Harapannya, integrasi isu sumber daya alam ke dalam kerja PBB dapat menjamin bahwa transisi energi tidak mengorbankan perdamaian dan hak kedaulatan negara atas kekayaan alamnya.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda