Jeddah mendadak hening saat Anthony Joshua terjatuh ke kanvas, hanya 20 detik setelah bel ronde pertama berbunyi. Pukulan uppercut Kristian Prenga mendarat telak di dagu Joshua, mengirim sinyal bahaya ke seluruh penjuru arena. Petinju Inggris itu limbung.
Sepanjang sisa ronde, ia terpaksa bertahan mati-matian di bawah gempuran pukulan kanan Prenga yang berat dan konstan. Bel penyelamat berbunyi tepat saat Joshua terlihat hampir kehilangan kesadaran.
Namun, babak kedua menyajikan pemandangan yang sama sekali berbeda. Prenga, yang seharusnya bisa menghabisi lawannya, justru kehilangan momentum. Joshua yang bangkit dari keterpurukan tampil jauh lebih agresif.
Ia mulai mengatur jarak, melontarkan jab kiri tajam, dan memancing Prenga ke arah pojok ring. Saat celah terbuka, Joshua melepaskan kombinasi satu-dua mematikan. Pukulan hook telak menghantam Prenga hingga roboh.
Wasit tak punya pilihan lain, laga dihentikan setelah petinju penantang itu tak mampu lagi berdiri sebelum hitungan ke-10 tuntas.
Dendam Masa Lalu di Balik Kemenangan
Suasana pasca-laga terasa kental dengan tensi tinggi. Joshua yang masih terengah-engah langsung melontarkan provokasi kepada Tyson Fury. Ia meniru gaya bicara khas Mike Tyson, memberikan senyum penuh arti yang membuat penonton di Jeddah bersorak liar. “Saya belajar sesuatu malam ini. Saya tidak bisa dihentikan, saya tidak bisa disangkal,” tegas Joshua di tengah ring.
Di balik aksi panggung yang provokatif, Joshua menyimpan luka yang belum kering. Ia mengaku masih kerap teringat tragedi kecelakaan mobil yang merenggut nyawa dua teman dekatnya, tujuh bulan silam. Rasa kehilangan itu masih menghantuinya setiap kali ia masuk ke ruang ganti.
“Menyakitkan membicarakan hal itu,” ucapnya lirih saat sesi wawancara. Di pinggir ring, Oleksandr Usyk tampak terpaku. Juara dunia itu menyaksikan duel tersebut dengan ekspresi tak percaya, menatap Joshua yang baru saja membuktikan bahwa naluri pembunuhnya belum hilang.
Catatan Kritis dan Panggung Tambahan
Bagi Kristian Prenga, kekalahan ini menjadi pelajaran pahit dalam debut besarnya. Gagal mengeksekusi serangan saat lawan dalam kondisi goyah adalah kesalahan fatal yang sulit dimaafkan di level kelas berat dunia. Pertahanan yang runtuh begitu cepat di ronde kedua menunjukkan bahwa ketenangan mental masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi petinju tersebut.
Sebelum partai utama digelar, penonton sudah lebih dulu dihibur dengan laga yang tak kalah sengit. Hamzah Sheeraz sukses mempertahankan gelar WBO super-middleweight miliknya setelah menjalani pertarungan ketat melawan Simon Zachenhuber.
Sheeraz mengamankan kemenangan lewat keputusan mayoritas wasit, sebuah hasil yang menutup rangkaian partai tambahan dengan tensi tinggi sebelum aksi brutal Joshua mengakhiri malam.
Kemenangan Joshua di Jeddah ini kembali menegaskan statusnya sebagai ancaman nyata di kelas berat. Meskipun sempat tersungkur, kemampuannya membaca celah pertahanan lawan di saat-saat kritis tetap menjadi aset yang sangat berbahaya.
Dunia tinju kini menunggu langkah apa yang akan diambil Joshua selanjutnya, terutama setelah tantangan terbuka yang ia layangkan kepada Fury di depan ribuan pasang mata.
Implikasi kemenangan ini sangat jelas. Joshua tidak hanya menyelamatkan kariernya dari kekalahan memalukan, tetapi ia juga mengirim pesan kuat kepada para pesaingnya di divisi kelas berat. Pertandingan ini menjadi pengingat bahwa di ring tinju, satu detik bisa mengubah segalanya—dari seseorang yang hampir kalah telak menjadi penakluk yang mendominasi dalam sekejap.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.