Selasa, 28 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Angela Tanoesoedibjo Minta Kader Perindo Peka Isu Sosial dan Kemanusiaan

Angela Tanoesoedibjo Minta Kader Perindo Peka Isu Sosial dan Kemanusiaan
Angela Tanoesoedibjo Minta Kader Perindo Peka Isu Sosial dan Kemanusiaan

Darah segar bagi dunia politik kita. Itulah yang ingin dibangun Angela Tanoesoedibjo saat mengumpulkan ratusan kadernya di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (27/7/2026). Ketua Umum Partai Perindo ini mengumpulkan 380 anggota DPRD dari berbagai pelosok daerah untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) legislator partai tersebut.

Ruang ballroom yang biasanya dipenuhi diskusi teknis legislasi tiba-tiba berubah senyap. Angela sengaja mengangkat tragedi pengeroyokan di Bali sebagai pembuka arahannya. Seorang pria tewas di sana hanya karena dituduh mencuri ayam. Masalah hukum, menurut Angela, biarlah menjadi urusan aparat kepolisian untuk menyelesaikannya sesuai koridor yang ada.

Namun, sisi humanisnya tak bisa diam. Ia menyoroti nasib keluarga yang ditinggalkan. Terutama seorang anak yang kini kehilangan ayahnya dalam sekejap. Baginya, ini bukan sekadar kasus kriminalitas di media massa. Ini adalah tamparan keras bagi nurani setiap orang yang mengklaim diri sebagai wakil rakyat.

“Ada anak yang kehilangan ayahnya tiba-tiba, tewas karena ayahnya diduga mencuri,” ujar Angela di hadapan para kader yang duduk tertib. Suaranya terdengar tegas namun sarat refleksi. Ia menekankan bahwa posisi sebagai legislator bukan sekadar jabatan administratif. Kursi empuk parlemen tidak boleh membuat kadernya buta terhadap tragedi yang terjadi di depan mata.

Ia ingin kader Perindo memiliki radar sosial yang peka. Legislator harus mampu menjadi garda terdepan saat masyarakat di bawah mengalami kebuntuan. Jika ketimpangan sosial dibiarkan, kekerasan massa yang main hakim sendiri seperti kasus di Bali hanya akan menjadi bom waktu di berbagai daerah lain.

Belajar dari Sepak Bola

Tak hanya bicara soal empati, Angela juga membawa perspektif baru dalam manajemen organisasi. Ia menggunakan metafora perjuangan Tim Nasional Norwegia untuk memotivasi para peserta Bimtek. Bayangkan, sebuah tim yang selama 28 tahun absen dari panggung Piala Dunia, akhirnya berhasil menembus putaran final pada 2026 ini.

Apa rahasianya? Bukan sulap. Bukan pula instan. Angela menjelaskan bahwa Norwegia membangun sistem akademi yang solid selama puluhan tahun. Fondasi yang kokoh itulah yang akhirnya melahirkan pemain-pemain kelas dunia. Perindo, kata dia, harus meniru pola pikir tersebut.

“Tidak ada kesuksesan yang datang dalam semalam,” tegasnya. Ia meminta para legislator di daerah tidak hanya mengejar popularitas sesaat di media sosial. Sebaliknya, mereka harus berani membangun akar yang kuat di konstituen masing-masing. Fokusnya adalah konsolidasi dan peningkatan kapasitas kader sebagai mesin partai yang sesungguhnya.

Kegiatan yang mengusung tema “Bersatu dalam Nilai, Unggul dalam Aksi” ini dijadwalkan akan terus bergulir hingga 30 Juli mendatang. Para anggota dewan yang hadir tampak serius mencatat poin-poin yang disampaikan. Ada beban ekspektasi yang besar di pundak mereka setelah sesi tersebut berakhir.

Tugas para legislator ini jelas. Mereka dituntut untuk membumikan kebijakan agar tidak sekadar menjadi tumpukan kertas di gedung dewan. Pendampingan bagi warga yang membutuhkan—terutama mereka yang berada dalam tekanan ekonomi ekstrem—menjadi ukuran keberhasilan kinerja kader Perindo ke depan.

Bagi Angela, konsolidasi internal ini adalah langkah awal untuk merombak persepsi publik. Ia menginginkan partai yang dipimpinnya benar-benar hadir saat dibutuhkan, bukan sekadar muncul saat musim kampanye tiba. Keberhasilan dalam memenangkan kepercayaan publik nantinya sangat bergantung pada seberapa peduli legislator di lapangan terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat hari ini.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda