Selasa, 28 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Cara Kerja Buzzer Hoax di Medsos: Dari Bayaran Sampai Bikin Opini

Cara Kerja Buzzer Hoax
Cara Kerja Buzzer Hoax di Medsos: Dari Bayaran Sampai Bikin Opini. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Fenomena penyebaran informasi palsu di ruang siber Indonesia tidak lagi berjalan secara organik. Operasi penyebaran disinformasi kini melibatkan kelompok terorganisir yang dikenal sebagai buzzer, yang bertugas memanipulasi opini publik dengan target narasi spesifik.

Para aktor ini bekerja dengan memanfaatkan algoritma media sosial untuk membuat konten bohong seolah-olah menjadi kebenaran umum. Dampak dari aktivitas ini cukup serius, mengingat besarnya arus informasi yang diterima masyarakat setiap hari melalui berbagai platform digital.

Mekanisme Operasi Buzzer di Ruang Digital

Buzzer bekerja dengan skrip atau pengarahan yang disusun oleh pihak tertentu. Mereka menggunakan metode framing dengan kata kunci dan tagar terencana agar sebuah isu mendominasi ruang percakapan. Strategi utama mereka adalah serangan masif dan berulang, di mana satu narasi diunggah oleh ratusan akun dalam waktu hampir bersamaan.

Teknik ini bertujuan mengecoh algoritma platform agar menilai isu tersebut sedang tren. Selain itu, mereka kerap menggunakan bot atau akun kloningan dengan profil buatan AI yang aktif sepanjang waktu tanpa henti. Aktivitas mereka tidak terbatas pada unggahan konten utama, tetapi juga menyasar kolom komentar berita, grup percakapan seperti WhatsApp, hingga pesan langsung untuk menciptakan kesan dukungan publik yang semu.

Konten yang mereka produksi pun sengaja dirancang untuk memicu emosi pembaca seperti kemarahan, ketakutan, atau belas kasihan. Judul-judul yang bombastis digunakan untuk menarik perhatian instan. Berdasarkan data dari Mafindo, sekitar 60 persen hoax tersebar melalui grup WhatsApp, Facebook, dan TikTok.

Skala Penyebaran dan Bahaya Disinformasi

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat bahwa sejak 2018 hingga Juli 2026, terdapat 5,6 juta konten hoax dan disinformasi yang telah diblokir. Angka ini mencerminkan betapa massifnya upaya manipulasi informasi yang harus dihadapi pengguna internet di Indonesia.

Mafindo juga memetakan bahwa topik hoax paling banyak beredar di masyarakat meliputi sektor kesehatan, politik, dan bantuan sosial. Sebuah riset menunjukkan tren bahwa audiens cenderung lebih mempercayai sebuah informasi jika pesan yang sama diulang lebih dari tiga kali oleh akun yang berbeda. Perilaku psikologis inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok buzzer untuk menanamkan disinformasi.

Mengenali Ciri dan Upaya Pencegahan

Pengguna media sosial dapat mengenali akun-akun yang terindikasi sebagai buzzer hoax melalui sejumlah karakteristik spesifik. Biasanya, akun tersebut memiliki riwayat profil yang baru atau sama sekali tidak membagikan kehidupan pribadi. Mereka cenderung menggunakan komentar yang sama persis dengan akun lain, aktif selama 24 jam penuh, dan sangat provokatif dalam memancing perdebatan atau melontarkan caci maki.

Untuk membentengi diri dari paparan konten tersebut, masyarakat disarankan melakukan verifikasi fakta secara mandiri. Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah mengakses situs layanan pengecekan fakta seperti cekfakta.com atau turnbackhoax.id sebelum menelan mentah-mentah informasi yang diterima.

Prinsip kehati-hatian sebelum menyebarkan konten atau menerapkan kebijakan stop, pikirkan, dan bagikan menjadi kunci utama. Selain itu, penggunaan fitur pelaporan di platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga X sangat dianjurkan untuk menekan penyebaran konten berbahaya.

Literasi digital yang tinggi, dengan selalu mempertanyakan sumber informasi dan kebenaran data, menjadi pertahanan terakhir agar masyarakat tidak terjebak dalam arus manipulasi yang dijalankan oleh buzzer.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda