Selasa, 28 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Hary Tanoesoedibjo Ungkap Ketekunan Politik Prabowo Subianto di Hadapan Kader Perindo

Hary Tanoesoedibjo Ungkap Ketekunan Politik Prabowo Subianto di Hadapan Kader
Hary Tanoesoedibjo Ungkap Ketekunan Politik Prabowo Subianto di Hadapan Kader

Ratusan kader Partai Perindo duduk tegak di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta, Senin malam. Mereka menyimak dengan saksama saat Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo, berdiri di depan podium. Malam itu, bukan sekadar agenda rutin Bimbingan Teknis 2026 yang dibahas. Hary sedang memberikan kuliah singkat tentang daya tahan dan nasib di panggung politik nasional.

Kisah Prabowo Subianto menjadi bahan utama pembicaraan. Hary mengajak para kader melihat ke belakang, tepatnya dua puluh tahun silam. Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin bukanlah hasil dari keberuntungan semalam, melainkan akumulasi dari kegagalan yang terus diperbaiki. Ia menegaskan, politik membutuhkan ketekunan yang nyaris tak masuk akal.

Hary membedah perjalanan panjang sang Presiden ke-8 RI itu dengan detail. Tahun 2004 menjadi titik awal saat Prabowo mencoba peruntungan lewat konvensi Partai Golkar, namun kandas. Lima tahun berselang, ia maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri. Hasilnya? Masih belum memihak.

Rentetan kegagalan itu berlanjut di Pemilu 2014 saat Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa, lalu di Pemilu 2019 bersama Sandiaga Uno. “Pak Prabowo, juga 20 tahun. 2004 ikut konvensi Golkar, kalah. 2009 jadi cawapres Bu Mega. Kemudian 2014 capres sama Pak Hatta. Dan 2019 sama Bang Sandi. Kalah terus. 2024, sukses,” ujar Hary di hadapan anggota DPRD Perindo dari seluruh pelosok nusantara.

Bagi Hary, pola perjalanan Prabowo adalah bukti bahwa kerja keras saja tidak cukup. Ada variabel lain yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya: momentum. Prabowo dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga api semangatnya tetap menyala meski berkali-kali tumbang di kotak suara. Ketekunan itu akhirnya bertemu dengan waktu yang tepat pada 2024.

Belajar dari Sejarah Partai Besar

Pembahasan Hary tak berhenti pada figur pribadi. Ia menarik benang merah sejarah untuk menjelaskan bagaimana partai politik bisa menjelma menjadi kekuatan besar di Indonesia. Ia mencontohkan PDIP dan PKB sebagai studi kasus yang paling relevan. Menurutnya, pertumbuhan pesat kedua partai tersebut tidak lepas dari kemampuan mereka membaca dan memanfaatkan gelombang perubahan zaman.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda