Layar ponsel kita dibanjiri jutaan video pendek setiap detiknya. Seringkali, apa yang kita tonton pagi ini sudah terlupa begitu saja saat sore tiba. Begitulah algoritma bekerja, memaksa pembuat konten berlomba mengejar atensi singkat demi angka views.
Tapi, ada pergerakan arus bawah yang mulai melawan pakem ini di industri Entertainment & Media (EdanM) Indonesia. Fokus pelaku industri kini bergeser dari sekadar viralitas menuju penciptaan konten yang punya napas panjang.
Irsan Yapto, salah satu tokoh yang mencermati perubahan ini, blak-blakan soal tren tersebut. Dia bilang, mengandalkan tren algoritmik saja ibarat memancing di kolam yang ikannya terus berpindah. Tidak cukup untuk menjaga loyalitas penonton dalam jangka panjang.
Sekarang, narasi yang menyentuh sisi manusiawi justru menjadi mata uang baru yang jauh lebih berharga daripada durasi tayang yang hanya sekilas.
Mengembalikan Manusia ke Dalam Konten
Industri media kita sedang mengalami fase pendewasaan. Audiens di Indonesia tidak lagi mudah kenyang hanya dengan tontonan cepat saji. Mereka mulai mencari relevansi. Mereka ingin melihat diri mereka sendiri dalam sebuah cerita.
Ketika sebuah konten mampu memicu emosi, entah itu tawa yang tulus, empati, atau refleksi mendalam, saat itulah loyalitas tercipta dengan sendirinya. Ini bukan lagi soal algoritma yang menentukan siapa yang menang, tapi soal seberapa dalam ikatan yang dibangun antara brand dan penontonnya.
Pergeseran ini memaksa para pelaku kreatif untuk putar otak. Dulu, kecepatan unggahan adalah segalanya. Sekarang, kualitas cerita menjadi panglima. Memproduksi konten bermakna memang jauh lebih menguras waktu dan energi dibandingkan mengikuti tren dance atau meme yang sedang meledak. Namun, risikonya sepadan. Konten dengan kedalaman narasi terbukti memiliki retensi audiens yang jauh lebih solid.
Seleksi Alam Kreativitas
Efek dari perubahan selera ini sangat nyata. Kita bisa melihat bagaimana audiens kini jauh lebih selektif. Mereka mulai mahir memilah mana konten yang dibuat asal-asalan demi algoritma dan mana yang digarap dengan riset mendalam.
Kondisi ini secara tidak langsung melakukan “pembersihan” di ekosistem digital kita. Konten-konten yang kosong pesan perlahan mulai ditinggalkan, sementara narasi yang substansial justru semakin awet bertahan di permukaan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.