Rabu, 29 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Merz Tertekan Usai Reshuffle Kabinet yang Guncang Internal CDU

Kantor pemerintah Jerman di Berlin, simbol ketegangan politik internal pemerintahan Merz pasca reshuffle
Reshuffle kabinet Merz memicu kemarahan dalam CDU/CSU dan melemahkan posisi kanselir (ilustrasi: Unsplash). (Ilustrasi: AI)

BERLIN — Kanselir Jerman Friedrich Merz menghadapi tekanan serius setelah reshuffle kabinet yang memicu kemarahan di internal partainya sendiri. Momentum ini datang saat pemerintahannya berjuang menghadapi lonjakan partai sayap kanan menjelang pemilihan di tingkat negara bagian bulan September.

Pokok Peristiwa

Situasi Merz terus memburuk. Survei RTL/ntv pada 28 Juli menunjukkan hanya 15 persen pemilih puas dengan kinerjanya. Lebih memprihatinkan lagi, dalam kalangan partai sendiri CDU/CSU, tingkat kepuasan Merz hanya 49 persen.

“Peristiwa pekan lalu telah merusak posisi Merz dalam CDU secara signifikan,” kata seorang anggota dewan eksekutif federal CDU kepada Reuters.

Persoalan dimulai dari pengunduran diri mendadak Jens Spahn, tokoh berat partai, setelah keputusan memiliki anak melalui surrogasi di luar negeri—bertentangan dengan posisinya yang sebelumnya mendukung larangan praktik ini di Jerman. Merz kemudian menunjuk Thorsten Frei, kepala stafnya, menggantikan Spahn sebagai ketua fraksi parlemen konservatif. Namun reshuffle tidak berhenti di situ.

Patrick Schneider dipecat dari jabatan Menteri Transportasi, memicu kemarahan konservatif dari negara bagian asalnya Rhineland-Palatinate. Dalam surat yang bocor, para legislator konservatif di sana menolak bertemu Merz, menyatakan pertemuan “memerlukan tingkat kepercayaan dan rasa hormat minimal.”

Konteks

Situasi semakin runyam ketika Tino Sorge, menteri kesehatan junior, bereaksi marah setelah juga kehilangan jabatannya. Merz mengumumkan keputusan tersebut kepada media sebelum memberitahu Sorge secara pribadi. Sorge berasal dari Saxony-Anhalt, salah satu dari dua negara bagian timur yang akan mengadakan pemilihan September.

Partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) memanfaatkan ketidakstabilan ini. Ko-ketua AfD Tino Chrupalla mengatakan Merz tidak hanya memberhentikan “seorang ahli kebijakan yang terbukti” tetapi juga “menghilangkan seseorang dari Jerman Timur dari pemerintahan,” dengan menuduh Merz melakukan perlakuan “dingin dan tidak adil.”

Data menunjukkan tantangan yang lebih besar menanti Merz. AfD kini memimpin survei nasional di 27 persen, sementara CDU/CSU turun ke 21 persen—skor terendah sejak pemilihan federal 2025. Lebih mengkhawatirkan, AfD untuk pertama kalinya melampaui konservatif dalam persepsi publik tentang kompetensi dan kemampuan mengatasi masalah Jerman.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Frei, yang terpilih menjadi ketua fraksi parlementer, akan memiliki peran kunci sebagai koordinator dengan Partai Sosial Demokrat (SPD), mitra junior dalam koalisi penguasa, untuk mendorong reformasi yang Merz janjikan guna menghidupkan kembali ekonomi terbesar Eropa.

Merz mengklaim badai akan berlalu. “Saya berasumsi emosi akan agak mendingin pada bulan September,” katanya, menunjuk pada tanggal ketika Parlemen berkumpul kembali dan menteri-menteri barunya akan dilantik. Meski begitu, posisinya saat ini jauh berbeda dari pendahulunya.

Angela Merkel, rivalnya dulu, menonjol dalam survei opini publik selama 16 tahun menjadi kanselir—prestasi yang tak diraih Merz kini.

Dalam jangka pendek, posisi Merz tampak aman. Tidak ada alternatif yang layak untuk menggantikannya, dan keluarnya Spahn menghilangkan salah satu pesaing potensialnya. Namun, tiga bulan ke depan akan menentukan apakah Merz bisa memulihkan kepercayaan partai sebelum pemilihan September yang krusial untuk masa depan pemerintahannya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda