Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

AS-Iran Damai, Harga Minyak Dunia Anjlok Lagi ke Level Terendah: Brent Dijual USD84/Barel

AS-Iran Damai, Harga Minyak Dunia Anjlok Lagi ke Level Terendah
AS-Iran Damai, Harga Minyak Dunia Anjlok Lagi ke Level Terendah

JAKARTA — Tren penurunan harga minyak mentah dunia berlanjut tajam menyusul meredanya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar merespons positif jeda saling serang antar-kedua negara yang sempat memicu kekhawatiran global akan terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Data terbaru menunjukkan harga minyak acuan Brent anjlok USD4,27 atau sekitar 4,8 persen. Komoditas ini kini diperdagangkan pada level USD84,09 per barel. Penurunan serupa juga dialami oleh US West Texas Intermediate (WTI) yang merosot USD3,35 atau setara 4,1 persen, sehingga harganya berada di posisi USD79,26 per barel.

Dampak Sentimen Geopolitik pada Pasar

Secara keseluruhan, harga minyak mentah telah terperosok sekitar 16 persen dalam tiga hari perdagangan terakhir. Brent kini mencatatkan harga penutupan terendah sejak 13 Juli, sementara WTI menyentuh titik terendahnya sejak 16 Juli. Angka penurunan sekitar 5 persen yang terjadi saat ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap perubahan dinamika di Timur Tengah.

Bagi ekonomi Indonesia, fluktuasi harga minyak mentah memiliki implikasi signifikan. Sebagai negara yang masih mengimpor bahan bakar, penurunan harga minyak global memberikan ruang napas bagi beban APBN yang selama ini tertekan oleh volatilitas nilai tukar rupiah dan tingginya biaya energi.

Namun, stabilitas harga ini sangat bergantung pada keberlanjutan negosiasi yang saat ini masih dalam fase rapuh.

Ketidakpastian di Balik Gencatan Senjata

Meskipun ada sinyal positif dari penghentian aksi militer, akar masalah di Selat Hormuz—jalur vital yang dilewati oleh seperlima pasokan minyak dunia—masih jauh dari penyelesaian. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengeklaim pembicaraan dengan pihak Iran berlangsung baik. Namun, klaim tersebut segera dibantah keras oleh Teheran yang menolak narasi adanya negosiasi lanjutan dengan Washington.

Pasar tampak terbuai oleh harapan akan meja perundingan, meski pelaku pasar menyadari bahwa jeda semacam ini kerap bersifat sementara. Ketidakpastian mengenai masa depan jalur perdagangan energi ini tetap menjadi ancaman laten bagi keberlangsungan harga minyak yang stabil di masa depan.

Hingga saat ini, para investor masih menanti perkembangan lebih lanjut di lapangan untuk menentukan arah tren pasar energi global pekan depan. Ketegangan yang masih tersisa antara kedua negara dapat kembali memicu volatilitas harga kapan saja jika situasi politik kembali memanas.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda