Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Jenny Taft: Piala Dunia 2026 Katalisator Sepak Bola Amerika Serikat

Suasana antusias penonton di stadion sepak bola Amerika Serikat
Atmosfer Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat menjadi titik balik pertumbuhan sepak bola di negara tersebut. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Piala Dunia 2026 mungkin telah resmi ditutup lebih dari sepekan lalu, namun jejak emosional dan dampaknya bagi lanskap sepak bola Amerika Serikat masih terasa kuat. Bagi reporter veteran FOX, Jenny Taft, turnamen edisi 48 tim ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan katalisator besar yang mengubah cara pandang masyarakat Amerika terhadap sepak bola.

Selama meliput turnamen dari sudut pandang logistik hingga antusiasme publik, Taft menyoroti kesuksesan Amerika Serikat sebagai tuan rumah. Meski sempat muncul keraguan mengenai kesiapan infrastruktur dan nuansa politik di balik layar, Taft menyebut pengalaman menggelar turnamen di tanah Amerika melampaui segala ekspektasi yang ia bayangkan sebelumnya.

Solidaritas Timnas AS dan Efek Pochettino

Sepanjang perhelatan, Taft mengikuti perjalanan tim nasional Amerika Serikat (USMNT) secara mendalam. Ia menggambarkan kelompok pemain saat ini sebagai skuad yang sangat solid dengan budaya internal yang kuat.

Walaupun langkah mereka harus terhenti usai kalah dari Belgia, Taft menolak menyebutnya sebagai kegagalan total. Ia justru melihat adanya pertumbuhan yang signifikan dari sisi dukungan penggemar.

Salah satu momen paling emosional yang ia rekam adalah ketika para penonton di stadion menyanyikan “Country Roads” sembari meneriakkan nama Mauricio Pochettino. Bagi Taft, keterikatan emosional seperti itu menunjukkan bahwa sepak bola di Amerika kini memiliki pijakan yang lebih dalam.

Ia bahkan mengamati perubahan nyata di jalanan kota, di mana kini semakin banyak anak-anak yang mengenakan jersey sepak bola, sebuah pemandangan yang menurutnya meningkat drastis dibanding masa-masa sebelumnya.

Geliat Sepak Bola Global hingga Ancaman Finansial FIFA

Tidak hanya fokus pada USMNT, Taft juga membagikan pandangannya mengenai atmosfer global yang dibawa oleh para pendukung dari berbagai negara ke Amerika. Ia menyebut fenomena bertukarnya budaya—seperti warga lokal yang mulai mengenal dan menyukai hal-hal unik dari negara lain—sebagai sesuatu yang menyegarkan. Fenomena ini menciptakan gelombang baru bagi popularitas sepak bola yang lintas negara.

Di sisi lain, dunia sepak bola internasional kini tengah menghadapi dinamika baru yang menantang. Berdasarkan laporan terkini, Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan ultimatum kepada 211 federasi anggota, termasuk PSSI, terkait rencana penjualan saham minoritas Piala Dunia.

Rencana yang bernilai sekitar 4,2 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp76 triliun ini memicu polemik. UEFA bahkan secara terbuka menentang kebijakan tersebut dengan menyatakan bahwa tata kelola sepak bola bukanlah aset yang boleh diperjualbelikan.

Bagi federasi nasional, penolakan terhadap rencana ini berisiko mengakibatkan hilangnya potensi pemasukan hingga 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp542 miliar.

Sementara di Indonesia, gairah sepak bola terus dipacu melalui jalur pembinaan yang berkesinambungan. Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama PSSI tengah bersiap menggelar Srikandi Merdeka Cup 2026 pada 14-23 Agustus mendatang di Supersoccer Arena, Kudus.

Turnamen ini menjadi ajang penting untuk menjaring talenta muda, termasuk proyeksi untuk Timnas Putri Indonesia U-17, yang membuktikan bahwa semangat untuk memajukan sepak bola tidak hanya terbatas pada skala global, namun juga pada pengembangan level akar rumput di daerah.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda