Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

6 Saham Jerman di Bursa Efek: Proyeksi Laba BASF dan Bayer Bergerak

6 Saham Jerman di Bursa Efek
6 Saham Jerman di Bursa Efek

DÜSSELDORF — Pasar modal Jerman tengah menghadapi tekanan sentimen global. Sejak April lalu, analis terpantau menurunkan ekspektasi laba bersih perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam indeks Dax rata-rata sebesar dua persen. Namun, di tengah tren pelemahan tersebut, terdapat enam saham yang menunjukkan anomali pergerakan proyeksi laba, dengan kenaikan atau penurunan tajam mencapai 37 persen.

Data yang dihimpun Handelsblatt menyoroti divergensi kinerja korporasi. Dua emiten mencatatkan koreksi estimasi laba hingga 37 persen, sementara empat lainnya justru menikmati lonjakan proyeksi keuntungan hingga 36 persen. Perubahan ini menjadi indikator krusial bagi investor dalam memetakan potensi nilai saham di tengah ketidakpastian ekonomi.

Lonjakan Kinerja BASF dan Bayer

BASF, sebagai produsen kimia terbesar di Eropa, memimpin daftar dengan kenaikan estimasi laba hampir 36 persen. Pencapaian ini didorong oleh peningkatan permintaan dan kebijakan kenaikan harga di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kekhawatiran akan hambatan rantai pasok memicu pelanggan untuk segera mengisi persediaan mereka, yang berujung pada optimalisasi kapasitas pabrik utama di Ludwigshafen.

Efisiensi internal turut menopang profil perusahaan. Hingga pertengahan 2024, BASF telah mengurangi jumlah tenaga kerja sekitar 7.000 orang dibandingkan awal tahun.

Meski begitu, dengan rasio harga terhadap laba (KGV) berada di level 17,5—sekitar sepertiga lebih tinggi dari rata-rata historis sepuluh tahun—investor perlu mencermati risiko jika permintaan pasar kembali melandai. Sebagai pemanis, BASF menawarkan imbal hasil dividen sebesar 4,6 persen.

Sementara itu, Bayer menunjukkan pemulihan signifikan dengan estimasi laba bersih tahun ini naik rata-rata hampir 35 persen menjadi 2,7 miliar Euro. Di bawah kendali CEO Bill Anderson, perusahaan telah memangkas 12.000 posisi kerja untuk merampingkan operasional.

Langkah krusial lainnya adalah pemisahan bisnis glifosat ke entitas baru bernama Ruveon, guna memitigasi risiko hukum dari gugatan terkait produk Monsanto.

Bayer kini membidik penyelesaian di luar pengadilan untuk sekitar 67.000 kasus, dengan target kesepakatan tercapai paling lambat 19 Agustus mendatang.

Siemens Energy dan Prospek Elektrifikasi

Di sisi lain, optimisme menyelimuti Siemens Energy. Proyeksi laba perusahaan Kraftwerksbauer tersebut melonjak 10 persen sejak April, dengan target laba bersih 3,7 miliar Euro untuk tahun fiskal yang berakhir September ini, naik signifikan dari 1,4 miliar Euro pada tahun sebelumnya.

Kebutuhan dunia akan pusat data dan elektrifikasi industri menjadi pendorong utama. International Energy Agency (IEA) memprediksi permintaan listrik puncak akan meningkat sekitar 40 persen hingga 2035.

Ketergantungan raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft terhadap pasokan listrik yang andal membuat kontrak turbin dan layanan pemeliharaan Siemens Energy tetap prospektif.

Dengan KGV 23,4, saham ini tercatat sepertiga lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya, mencerminkan valuasi yang lebih menarik seiring dengan pertumbuhan laba yang melampaui kenaikan harga sahamnya.

Pergerakan estimasi ini memberikan gambaran bagaimana sentimen pasar terhadap perusahaan besar dapat berubah drastis dalam hitungan bulan. Investor kini menanti laporan kinerja kuartal kedua, terutama dari Bayer pada 4 Agustus mendatang, untuk mengonfirmasi apakah perbaikan proyeksi tersebut akan diikuti oleh realisasi fundamental yang solid atau justru mengalami koreksi kembali.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda