ROMA — Roberto Mancini resmi kembali menukangi Timnas Italia untuk memulai misi sulit: mengembalikan kejayaan Gli Azzurri di pentas internasional. Kembalinya pria berusia 61 tahun ini menjadi babak baru bagi sepak bola Italia setelah sempat mengalami kegagalan beruntun dalam menembus putaran final Piala Dunia.
Keputusan Mancini kembali ke pelukan Italia terjadi setelah petualangannya di Arab Saudi berakhir lebih cepat.
Kariernya di Timur Tengah ternoda oleh performa inkonsisten tim, termasuk hasil imbang 1-1 kontra Timnas Indonesia pada putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, September 2024 silam.
Kala itu, disiplin taktik skuad Garuda dan aksi heroik Maarten Paes di bawah mistar gawang menjadi batu sandungan yang membuat Arab Saudi gagal mengamankan poin penuh di Jeddah.
Misi Penebusan Dosa bagi Mancini
Mancini mengakui rasa sesal mendalam atas keputusannya meninggalkan Italia beberapa tahun lalu. Ia mengibaratkan perpisahan tersebut sebagai kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Kini, ia bertekad membawa tim nasional kembali ke posisi yang semestinya.
FIGC sendiri sempat mendekati nama besar seperti Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti, sebelum akhirnya memilih untuk memanggil kembali Mancini guna memimpin proyek kebangkitan menuju Piala Dunia 2030.
Pengalaman pahit Mancini di Arab Saudi menjadi pelajaran berharga baginya. Ia sempat mengeluhkan kebijakan liga lokal yang terlalu bergantung pada pemain bintang asing, sehingga menit bermain untuk talenta lokal minim.
Hal tersebut, diakui Mancini, berdampak negatif pada daya saing tim nasional yang ia pimpin saat itu. Kegagalan melampaui kekuatan pertahanan Indonesia di Jeddah pun tercatat sebagai salah satu momen krusial yang mempercepat perpisahannya dengan The Green Falcons.
Dampak Nyata bagi Sepak Bola Italia
Bagi publik Italia, kembalinya Mancini membawa optimisme baru namun dibayangi ekspektasi besar. Italia kini berada dalam posisi krusial untuk memperbaiki citra setelah absen di tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut. Konsistensi menjadi tantangan utama yang harus diselesaikan sang pelatih agar Gli Azzurri tidak kembali terjebak dalam krisis prestasi.
Sementara itu, bagi Timnas Indonesia, hasil imbang melawan Arab Saudi di bawah asuhan Mancini tetap menjadi catatan historis penting. Poin tersebut membuktikan bahwa skuad Garuda mampu mengimbangi tim-tim besar dengan taktik kolektif yang solid.
Kepercayaan diri para pemain diharapkan terus meningkat saat menghadapi agenda-agenda besar ke depan, mengingat level permainan Indonesia kini mulai mendapatkan sorotan dari kancah internasional sebagai kekuatan yang kian kompetitif.
Mancini kini memiliki waktu untuk membenahi kerangka tim sebelum kualifikasi mendatang. Fokus utamanya adalah membangun skuad yang mampu tampil dominan, sekaligus menghapus memori kegagalan di masa lalu. Dunia akan melihat apakah sentuhan tangan dinginnya masih mampu mengembalikan marwah juara bagi Italia di Piala Dunia 2030 mendatang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.