Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Menjaga Asa dari Sepasang Mata

Menjaga Asa dari Sepasang Mata
Menjaga Asa dari Sepasang Mata

JAKARTA — Selama 11 tahun, hidup Asan (58) berubah total akibat diabetes melitus. Penyakit yang terdiagnosis sejak 2015 itu bukan sekadar mengganggu metabolisme, tetapi perlahan merenggut penglihatan hingga membuatnya harus duduk di kursi roda.

Pria yang dulunya tangkas bekerja sebagai satpam di berbagai apartemen dan hotel, mendadak kehilangan kemandirian karena kadar gula darah yang sempat menyentuh angka 400 mg/dL.

Masa suram itu mencapai puncaknya saat penglihatan Asan memudar akibat katarak. Kondisinya begitu memprihatinkan hingga harus mengesot di lantai rumah untuk sekadar pergi ke kamar mandi.

Sang istri, Sri Haryanti (54), menjadi sosok yang tak pernah lelah menjaga di setiap langkah suaminya yang limbung. Kini, kondisi tersebut perlahan membaik berkat akses layanan medis yang ditanggung BPJS Kesehatan.

Penyelamat di Tengah Krisis Kesehatan

Keputusan Sri mendaftarkan keluarga dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) menjadi titik balik bagi kelangsungan hidup suaminya. Sri mengakui, ia awalnya mendaftar hanya karena imbauan saat aktif sebagai kader PKK. Tak disangka, kartu tersebut menjadi penyelamat ketika biaya pengobatan membengkak dan kondisi Asan kian memburuk.

Operasi katarak pada kedua matanya yang ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan telah mengembalikan penglihatan Asan. Secara medis, tindakan operasi katarak untuk dua mata umumnya memerlukan biaya sekitar Rp 10 juta. Namun, keluarga ini hanya mengeluarkan ongkos transportasi menuju rumah sakit. Selain operasi, seluruh obat-obatan rutin serta terapi lainnya sepenuhnya ditanggung oleh negara.

Kisah ini menunjukkan betapa krusialnya jaring pengaman sosial dalam menghadapi beban biaya penyakit kronis. Bagi Sri, kepastian layanan BPJS Kesehatan adalah harapan agar sang suami tetap memiliki akses pengobatan berkelanjutan, termasuk insulin yang kini disuntikkan dua kali sehari serta sepuluh jenis obat harian lainnya yang harus dikonsumsi.

Tantangan Diabetes di Indonesia

Pengalaman Asan merefleksikan tren kenaikan beban penyakit diabetes di tanah air. Data menunjukkan jumlah penyandang diabetes di Indonesia mencapai 4,55 juta orang sepanjang 2025. Peningkatan jumlah pasien ini berbanding lurus dengan beban klaim yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat pembayaran klaim untuk penanganan diabetes mencapai Rp 15,69 triliun. Angka ini mencatatkan kenaikan signifikan, yakni 135,2 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada 2021 yang berada di angka Rp 6,67 triliun.

Lonjakan biaya ini menegaskan bahwa keberlanjutan program jaminan kesehatan menjadi taruhan utama bagi jutaan keluarga yang bergantung pada akses medis yang terjangkau.

Saat ini, proses kontrol rutin bagi Asan telah jauh lebih efisien dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Waktu tunggu yang dulu menghabiskan waktu seharian kini lebih singkat.

Bahkan, sistem pengiriman obat melalui kurir dengan biaya sekitar Rp 40.000, tergantung jarak, sangat membantu mobilitas keluarga ini. Perjuangan melawan komplikasi diabetes memang masih panjang, namun akses kesehatan yang stabil memberikan ruang bagi Asan dan Sri untuk terus melangkah ke depan.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda