Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Migran Ceuta Membludak, Spanyol Kirim Tentara ke Perbatasan

Migran Ceuta menyeberang perbatasan dan polisi berjaga
Situasi migran Ceuta memaksa Spanyol mengirim 60 personel untuk memperkuat polisi di perbatasan. (Ilustrasi: AI)

CEUTA — Migran Ceuta membuat Spanyol mengerahkan militer ke perbatasan dengan Maroko setelah ribuan orang menyeberang ke enklave itu dan sembilan orang dilaporkan tewas dalam arus penyeberangan massal dari Maroko. Madrid menurunkan 60 personel untuk memperkuat polisi yang kewalahan di wilayah kecil di Afrika utara itu.

Dampaknya langsung terasa. Pusat penampungan penuh, sejumlah toko tutup, dan pemerintah daerah mendesak status darurat nasional. Di saat yang sama, pemerintah pusat berupaya mengembalikan kendali atas perbatasan yang oleh pejabat serikat Civil Guard disebut sudah “totally collapsed”.

Spanyol turunkan tentara ke Ceuta

Pemerintah Spanyol mengatakan angkatan bersenjata akan membantu Civil Guard “to maintain security in the city of Ceuta”, sementara perdana menteri Pedro Sánchez dijadwalkan mendampingi Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska ke kawasan itu pada Jumat. Keputusan itu muncul setelah aparat domestik kewalahan pada Kamis oleh kedatangan ribuan migran.

Rachid Sbihi, kepala asosiasi yang mewakili petugas Civil Guard di Ceuta, menggambarkan situasi di lapangan sebagai kacau total. “The situation is absolute chaos,” katanya. Ia menambahkan, “It’s not possible to give precise numbers, but there are thousands of migrants crossing,” sambil menyebut perbatasan “totally collapsed”.

Rekaman video memperlihatkan ratusan orang berenang dari sisi Maroko dengan ban dalam dan alat apung lain, sementara yang lain menerobos gerbang pagar dan berlari masuk ke kota. Banyak dari mereka meneriakkan, “Viva España!”

Televisi negara TVE melaporkan 2.000 to 3.000 orang telah menyeberang. Kantor berita EFE juga menyebut sebagian migran memanjat pagar perbatasan tanpa berenang.

Tekanan di garis perbatasan

Gelombang terbaru ini mengingatkan pada penyeberangan pada Mei 2021, ketika sekitar 10.000 orang dari Maroko dan Afrika sub-Sahara masuk ke enklave berpenduduk 85.000 jiwa itu dalam hitungan hari. Kali ini, tekanan muncul lagi saat banyak migran mencoba masuk lewat laut, terutama dari sekitar Tarajal beach.

Achraf Maimouni dari Moroccan Association for Human Rights di Maroko utara menyebut situasinya “exceptional”. Ia mengatakan, “The Tarajal border was opened under unusual circumstances this morning and people crossed,” merujuk pada pembukaan perbatasan yang tidak biasa pada pagi hari itu.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda