Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Bikin Kader PSI Tertawa, Jokowi: Jangan Dikit-dikit ke Solo

Bikin Kader PSI Tertawa, Jokowi
Bikin Kader PSI Tertawa, Jokowi

Tawa pecah seketika di dalam ruangan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (1/8/2026).

Presiden ke-7 RI Joko Widodo baru saja melontarkan candaan yang cukup menohok, namun disisipi pesan serius mengenai kemandirian kader partai. Ia meminta para pengurus untuk tidak membiasakan diri membawa segala persoalan organisasi langsung ke kediamannya di Solo.

Suasana mendadak riuh saat Jokowi menjabarkan jenjang koordinasi organisasi yang ideal bagi para kader. “Kalau bisa, selesaikan sendiri. Kalau tidak bisa, sampaikan, minta bantuan kepada Ketua DPD. Kalau tidak bisa, minta bantuan kepada Ketua DPW. Kalau tidak bisa lagi, ke DPP.

Kalau tidak bisa juga, ke Solo juga tidak apa-apa. Tapi jangan dikit-dikit ke Solo,” ujarnya di hadapan ribuan peserta yang memadati lokasi acara. Kalimat itu langsung disambut tepuk tangan meriah dan gelak tawa para kader yang hadir.

Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 15.15 WITA. Ia mengenakan setelan kemeja putih yang dipadukan dengan celana hitam. Penampilannya tampak berbeda dengan kehadiran destar khas Indonesia Timur yang melilit di kepalanya.

Kehadiran sosok yang akrab disapa Jokowi ini menjadi magnet utama dalam agenda tersebut. Sejumlah petinggi partai terlihat mendampinginya, mulai dari Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie hingga Sekretaris Jenderal DPP PSI Raja Juli Antoni.

Menekankan Tanggung Jawab Berjenjang

Di balik seloroh yang mengundang tawa, ada arahan organisatoris yang ingin ditanamkan Jokowi. Ia ingin setiap tingkat struktur partai, dari daerah hingga pusat, memiliki rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk membedah masalah secara mandiri. Baginya, melompat langsung ke level paling atas tanpa mencoba melewati prosedur yang ada hanya akan melemahkan kemampuan kader dalam berorganisasi.

Strategi komunikasi semacam ini memang gaya khas Jokowi saat berhadapan dengan basis massa pendukungnya. Ia tidak memakai bahasa instruksi yang kaku atau formalistik. Dengan memosisikan diri sebagai “opsi terakhir” atau pintu paling buncit untuk mengadu, ia justru sedang mendidik hierarki di bawahnya untuk lebih tangkas dan berani mengambil keputusan di tingkat lokal.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda