The Independent melaporkan bahwa lebih dari dua dozen nations menjadi anggota pendiri board tersebut, termasuk Israel serta negara-negara kawasan dan beberapa negara di luar Timur Tengah seperti Indonesia, Paraguay, dan Vietnam. Sementara itu, Germany, Italy, Norway, Switzerland and the United Kingdom disebut berada di luar keanggotaan pendiri, meski ikut terlibat dalam proses pembahasan.
Trump sendiri mengaitkan kesepakatan Gaza itu dengan strateginya di Timur Tengah secara lebih luas. Ia menyebut keberhasilan mendorong Hamas melucuti senjata sebagai bukti pendekatannya terhadap Iran akan berhasil, meski pada saat yang sama ia mengakui situasi di sana juga rumit dan belum punya garis waktu yang jelas.
“Nobody thought that it would be possible to disarm Hamas,” kata Trump. “That shows you how much success we’re having with Iran, because if you went four months ago or five months ago, a deal like that would have been impossible,” ujarnya. Di saat bersamaan, ia juga mengakui dirinya sedang “losing faith” pada para pemimpin Iran karena, menurut dia, mereka berbohong.
Trump menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa implementasi kesepakatan akan tetap berjalan, meski tidak mulus. “We’re in for five months, and we have obliterated their military capacity,” katanya. “Again, they’ve got some left, but soon they won’t have some left.”
Dengan Hamas meminta penghentian serangan lebih dulu dan Israel menuntut perlucutan senjata yang bisa diverifikasi, titik tekan berikutnya ada pada apakah Board of Peace mampu memaksa kedua pihak bergerak pada arah yang sama, bukan hanya di atas kertas, tapi juga di lapangan Gaza yang masih rapuh.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.