Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

AS dan Israel Rencanakan Serangan ke Infrastruktur Energi Iran

Pemandangan fasilitas infrastruktur energi di tengah ketegangan geopolitik
Fasilitas infrastruktur energi menjadi fokus perhatian di tengah rencana kampanye militer di kawasan Timur Tengah. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Amerika Serikat dan Israel dikabarkan tengah menyusun rencana kampanye pengeboman besar-besaran yang menargetkan infrastruktur energi di Iran. Rencana operasi militer ini dilaporkan oleh sejumlah sumber kepada CBS News pada Jumat (31/7/2026), dengan kemungkinan eksekusi serangan dapat dilakukan sepanjang akhir pekan ini.

Diskusi mengenai operasi ini mencakup kekhawatiran terkait dampak ekonomi global jika pengeboman benar-benar dilakukan sebelum pasar keuangan dibuka pada Senin pagi. Meski demikian, hingga saat ini belum ada jadwal tetap mengenai kapan operasi militer tersebut akan berakhir. Presiden AS Donald Trump belum memberikan instruksi final untuk memulai serangan tersebut.

Sasaran utama dari operasi ini diproyeksikan meliputi pembangkit listrik dan kilang minyak. Seorang mantan pejabat militer AS menjelaskan kepada CBS News bahwa penargetan infrastruktur energi ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran dalam memberikan layanan vital dan menjalankan roda pemerintahan secara efektif.

Koordinasi dan Respons Pemerintah

Pihak Gedung Putih melalui sekretaris pers Karoline Leavitt menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir di bawah masa pemerintahan Trump.

Sementara itu, Kepala Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan berkomentar mengenai target spesifik sebelum ada keputusan resmi dari presiden.

Parnell menambahkan bahwa Departemen Perang sudah dalam posisi siap untuk menjalankan instruksi presiden kapan pun dibutuhkan.

Di sisi lain, seorang pejabat Israel memberikan pernyataan yang berbeda terkait rencana ini. Pejabat tersebut menuturkan bahwa Israel belum menerima informasi resmi mengenai keputusan untuk memulai kembali operasi militer penuh, serta belum ada permintaan dari AS bagi Israel untuk bergabung dalam aksi militer tersebut.

Tensi yang meningkat di kawasan Timur Tengah ini memicu beberapa kedutaan besar AS, termasuk di Amman, Jerusalem, dan Baghdad, untuk mengeluarkan peringatan keamanan pada Sabtu (1/8/2026). Warga negara Amerika di wilayah tersebut diimbau untuk waspada terhadap kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan lainnya.

Implikasi Ekonomi dan Geopolitik

Rencana serangan ini mencuat setelah Presiden Trump mengadakan rapat kabinet di Camp David pada hari Jumat. Dalam kesempatan tersebut, sempat muncul pembahasan mengenai pemutusan aliran listrik di seluruh wilayah Teheran, meski belum ada keputusan akhir yang diambil hingga Jumat sore.

Langkah ini sejalan dengan pernyataan Trump di platform Truth Social pekan lalu, di mana ia mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran sebagai balasan atas setiap serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.

Situasi ini memiliki dampak signifikan bagi stabilitas pasokan energi dunia, mengingat posisi Iran sebagai salah satu produsen minyak mentah global yang krusial.

Eskalasi konflik yang menargetkan fasilitas energi berpotensi memicu volatilitas harga komoditas dan kekhawatiran bagi sektor industri energi internasional, termasuk di Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas harga minyak dunia untuk menjaga inflasi domestik.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai waktu dimulainya operasi. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan telah memaparkan tiga opsi perang dalam pertemuannya dengan Presiden Trump awal pekan ini, termasuk opsi serangan militer yang fokus pada jalur pasokan logistik darat.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda