Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Hati-Hati, Studi Baru Bilang Pemanis Buatan Bikin Otak Cepat Tua

Hati-Hati, Studi Baru Bilang Pemanis Buatan Bikin Otak Cepat Tua
Hati-Hati, Studi Baru Bilang Pemanis Buatan Bikin Otak Cepat Tua

Pada kelompok konsumsi menengah, penurunan kognitif tercatat 35 persen lebih cepat dibanding kelompok terendah. Dalam hitungan peneliti, selisihnya setara 1,3 tahun penuaan.

Angka-angka itu memberi konteks baru bagi kebiasaan yang sering dianggap ringan. Minuman diet, makanan rendah kalori, atau produk berlabel tanpa gula sering masuk ke rutinitas harian tanpa banyak pertimbangan. Studi ini menunjukkan, pola konsumsi semacam itu bisa punya jejak yang lebih panjang daripada sekadar jumlah kalori di label kemasan.

Soal jenis pemanis, sorbitol tercatat dikonsumsi paling banyak, dengan asupan rata-rata 64 mg/hari. Untuk aspartam, jumlah pada kelompok tertinggi kira-kira setara aspartam dalam satu kaleng soda diet.

Dari tujuh pemanis yang diamati, enam menunjukkan hubungan dengan penurunan fungsi otak lebih cepat, terutama pada memori. Satu-satunya yang tidak memperlihatkan penurunan kognitif dalam penelitian ini ialah tagatose.

Usia dan diabetes ikut berpengaruh

Efek yang ditemukan peneliti juga tidak seragam pada semua kelompok usia. Di antara peserta berusia di bawah 60 tahun, kelompok dengan konsumsi tinggi mengalami penurunan kelancaran verbal dan kinerja kognitif lebih cepat daripada kelompok dengan konsumsi rendah. Pada peserta berusia di atas 60 tahun, peneliti tidak menemukan hubungan yang sama.

Di kelompok penderita diabetes, penurunan kognitif juga lebih cepat dibanding peserta yang tidak menderita diabetes. Suemoto menjelaskan, Meskipun kami menemukan hubungan dengan penurunan kognitif pada orang paruh baya baik dengan maupun tanpa diabetes, penderita diabetes lebih cenderung menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula.

Di titik ini, dampaknya terasa nyata. Buat pasar makanan dan minuman di Indonesia, hasil ini bisa memengaruhi cara konsumen memandang produk rendah kalori. Label “tanpa gula” belum tentu langsung memberi rasa aman jika konsumsi berlangsung rutin dan dalam jumlah besar.

Bagi orang yang sedang mengatur asupan gula, riset ini mendorong satu hal sederhana: jangan hanya menghitung kalori, tapi juga memperhatikan apa yang dipakai sebagai pengganti.

Para peneliti juga menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian bisa menunjukkan hubungan antara konsumsi pemanis buatan dan penurunan kognitif, tetapi belum membuktikan bahwa pemanis itu sendirilah penyebab utamanya. Masih ada ruang untuk riset lanjutan, termasuk soal alternatif gula olahan lain seperti saus apel, madu, sirup maple, atau gula kelapa.

Suemoto menekankan perlunya penelitian tambahan untuk mengonfirmasi temuan itu dan meneliti alternatif lain yang mungkin lebih efektif. Dalam bahan studi, tagatose tampak berbeda dari pemanis lain karena tidak memperlihatkan penurunan kognitif, tapi peneliti belum menganggapnya sebagai jawaban final. Jadi, pertanyaannya belum selesai.

Yang jelas, studi ini menambah daftar alasan untuk membatasi konsumsi gula dan pemanis dalam bentuk apa pun. Bukan sekadar soal diet, tapi juga soal bagaimana otak diperlakukan dari hari ke hari. Jalan terbaik, yaitu membatasi konsumsi gula dan pemanis, kata Suemoto dalam bahan yang dikutip dari ScienceDaily.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda