JAKARTA — diet untuk hati ternyata sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang sering dianggap sepele: alkohol, gula, olahraga, dan berat badan. Laporan The New York Times menyebut penyakit hati sedang meningkat di seluruh dunia, sementara pola makan dan kondisi kesehatan lain ikut mendorong risikonya.
Hati bekerja keras setiap hari. Organ ini menyaring darah, membantu menjaga kadar gula, menyimpan energi, dan berperan penting dalam pencernaan. Karena itu, kebiasaan harian yang tampak biasa saja bisa memberi dampak besar. Ada yang membantu hati pulih, ada pula yang justru membuatnya makin terbebani.
Alkohol dan gula sama-sama bisa memukul hati
Menurut laporan itu, konsumsi alkohol yang rutin, gangguan metabolik, atau gabungan keduanya dapat memicu steatotic liver disease. Dalam kondisi ini, lemak menumpuk di hati dan bisa berujung pada peradangan, jaringan parut, hingga sirosis, kata Dr Zoubair Younossi, ketua Global Center for Liver Outcomes & Policy Research di Georgetown University School of Medicine.
Pada orang dengan masalah metabolik seperti Type 2 diabetes, tekanan darah tinggi, atau lemak perut berlebih, konsumsi alkohol dalam jumlah moderat tetap bisa memperburuk kerusakan hati, kata Younossi. Binge drinking, yakni mengonsumsi lima minuman atau lebih dalam satu kesempatan, disebut sebagai yang paling berbahaya.
Untuk orang dengan penyakit hati lanjut, dokter menyarankan berhenti minum alkohol sepenuhnya. Pada kasus yang lebih ringan atau tanpa penyakit hati, satu minuman per hari masih bisa diterima, meski tidak minum sama sekali dinilai lebih baik, kata Dr Mary Rinella, direktur metabolic and fatty liver disease di University of Chicago.
Gula juga punya peran besar. Rinella menjelaskan bahwa gula adalah bahan dasar pembentukan lemak di hati. Bila jumlahnya berlebihan, “the machinery gets overwhelmed,” dan sel-sel hati menjadi stres. Resistensi insulin yang muncul akibat konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang ikut mendorong penumpukan lemak di hati.
Shira Zelber-Sagi, ahli gizi klinis dan peneliti kesehatan publik di University of Haifa, Israel, menyebut ada banyak bukti yang menghubungkan konsumsi gula tinggi, terutama dari minuman manis, dengan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.