BANDUNG — Tim Universitas Padjadjaran memperkenalkan metode pengolahan limbah jerami padi menjadi silase sebagai solusi praktis bagi kelompok tani dan ternak di Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Inovasi pascapanen ini ditujukan untuk meningkatkan nilai nutrisi limbah pertanian sekaligus memastikan ketersediaan pakan bagi peternak sepanjang tahun.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada pemanfaatan jerami padi yang selama ini sering kali dibakar, sehingga mencemari lingkungan. Melalui teknik fermentasi, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berharga diubah menjadi pakan ternak berkualitas dengan masa simpan yang lebih panjang.
Teknik Fermentasi untuk Pakan Berkualitas
Ahli nutrisi ternak ruminansia dan teknologi pakan dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Iman Hernaman, M.Si., IPU., memimpin langsung pelatihan teknis tersebut. Para peternak diajarkan bahwa kunci keberhasilan silase terletak pada proses pencacahan jerami.
Jerami yang dicacah akan memiliki luas permukaan lebih besar, sehingga mikroorganisme dapat bekerja optimal saat mengurai serat bahan.
Proses selanjutnya melibatkan penggunaan bahan pendukung berupa molase atau sumber gula lain, serta inokulan mikroba untuk mempercepat fermentasi. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam drum kedap udara. Pemadatan bahan di dalam wadah menjadi langkah krusial untuk memastikan seluruh oksigen keluar, menciptakan kondisi anaerob yang ideal.
Syarat Kualitas dan Waktu Fermentasi
Keberhasilan pembuatan silase dapat dikenali melalui beberapa indikator fisik. Produk yang berkualitas baik akan mengeluarkan aroma asam segar dan dipastikan bebas dari jamur. Peternak juga diingatkan mengenai pentingnya ketelitian dalam menjaga kebersihan alat dan bahan agar tidak terjadi kontaminasi yang merusak kualitas hasil akhir.
Faktor penentu utama lainnya mencakup kadar air, kepadatan tumpukan bahan di dalam wadah, serta durasi fermentasi. Umumnya, silase memerlukan waktu fermentasi selama 14 hingga 21 hari sebelum siap diberikan kepada hewan ternak. Konsistensi dalam menjaga faktor-faktor tersebut sangat menentukan nilai gizi yang didapatkan oleh ternak.
Program ini memberikan dampak langsung bagi warga Desa Bumiwangi dengan membekali mereka keterampilan baru dalam mengolah potensi lokal. Selain membantu peternak dalam menjaga ketahanan pakan, langkah ini sekaligus menekan praktik pembakaran jerami yang selama ini merusak lingkungan.
Dengan penerapan teknologi yang sederhana namun aplikatif, integrasi antara sektor pertanian dan peternakan di wilayah tersebut diharapkan menjadi lebih berkelanjutan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.