Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Pemerintah Akan Pulihkan PLTP Sarulla, Rencana Investasi Capai Rp 4,86 T

Pemandangan fasilitas infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PLTP Sarulla
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara yang akan menjalani pemulihan kapasitas. (Ilustrasi: AI)

TAPANULI UTARA — Pemerintah mulai mematangkan langkah strategis untuk memulihkan kapasitas operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla yang terletak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Proyek ini diproyeksikan membutuhkan tambahan investasi sebesar USD 270 juta atau setara dengan Rp 4,86 triliun, dengan asumsi kurs Rp 18.029 per dolar AS.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan bahwa pemulihan ini krusial untuk mengembalikan kinerja pembangkit ke kapasitas terpasang sebesar 330 Megawatt (MW). Saat ini, produksi listrik di lapangan tersebut dilaporkan berada di kisaran 220 MW.

Penurunan daya itu terjadi akibat tantangan teknis berupa perubahan tekanan uap pada lapangan panas bumi di wilayah Pahae Julu dan Pahae Jae.

Target Peningkatan Produksi pada 2027-2028

Pemerintah menargetkan seluruh proses administrasi yang diperlukan akan tuntas selambat-lambatnya pada Oktober 2026. Setelah urusan administratif rampung, peningkatan kapasitas produksi akan dikejar secara intensif pada periode 2027 hingga 2028. Yuliot menyatakan bahwa penuntasan administrasi menjadi syarat mutlak sebelum realisasi investasi dijalankan di lapangan.

PLTP Sarulla yang dioperasikan oleh Sarulla Operations Ltd. (SOL) selama ini menjadi salah satu aset vital dalam bauran energi nasional. Pembangkit ini memiliki tiga unit produksi dengan total kapasitas terpasang 330 MW, yakni Unit Silangkitang (SIL) yang beroperasi sejak Maret 2017, serta Unit Namora-I-Langit 1 dan 2 yang menyusul masing-masing pada Oktober 2017 dan Mei 2018.

Langkah pemulihan ini bukan sekadar memperbaiki unit yang ada, melainkan bagian dari rencana besar pemerintah untuk mengoptimalkan potensi panas bumi di wilayah Sarulla yang diperkirakan mencapai 1.100 MW. Ke depan, investasi tambahan akan dilakukan secara bertahap untuk memanfaatkan seluruh potensi panas bumi tersebut guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Perlu dicatat, terdapat perbedaan data investasi antara keterangan resmi Wamen ESDM dan publikasi Kementerian ESDM, di mana data dari Kementerian ESDM menyebutkan nilai investasi sekitar USD 160 juta.

Namun, merujuk pada laporan terbaru yang mengacu pada nilai konversi Rp 4,86 triliun, angka USD 270 juta menjadi basis estimasi biaya yang digunakan untuk menuntaskan pemulihan infrastruktur energi tersebut.

Bagi industri dan masyarakat, keberhasilan pemulihan kapasitas ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasokan listrik di wilayah Sumatera bagian utara.

Mengingat panas bumi merupakan sumber energi berbasis domestik yang berkelanjutan, efektivitas operasional PLTP Sarulla menjadi barometer penting dalam transisi energi nasional.

Pemerintah kini tengah berfokus memastikan bahwa tantangan teknis tekanan uap dapat teratasi, sehingga pasokan listrik dari unit yang ada bisa kembali stabil dalam dua tahun ke depan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda