David Kuhfahl, cucu Leason, mengatakan keluarga mereka sempat berada pada kondisi sangat sulit sebelum tawaran penting datang. “They contacted a publishing company … and they went out for testing, I guess you’d call it, for someone to do this children’s book, a short, truncated book that everyone could afford and would get people excited about The Wizard of Oz,” katanya.
Leason langsung menerima pekerjaan itu. Ia mengilustrasikan The Wizard of Oz Picture Book, berdasarkan buku asli karya L Frank Baum, dan tanpa sadar ikut menulis namanya ke dalam folklore sinema. Buku ilustrasi itu dibuat untuk mempromosikan film yang segera menyedot perhatian publik.
Cheque awal dari penerbit sempat mental, tetapi pada akhirnya ia menerima bayaran dan bisa membawa istri serta sisa anak-anaknya dari Victoria ke New York.
Dari poster bir sampai rumah di Staten Island
Di Australia, karya Leason yang paling mudah dikenali justru bukan ilustrasinya untuk The Wizard of Oz. Banyak orang mengenalnya lewat gambar seorang imigran Irlandia di Warburton, timur laut Melbourne. Menurut peneliti seni Su Jamison, kisah itu berawal pada 1907 ketika Carlton and United Brewery menggelar lomba karya seni untuk promosi bir.
Leason dan seorang rekan ikut ambil bagian. Keduanya masuk ke Paddy McPhee’s Upper Yarra Hotel, dan di bar mereka melihat Sam Knott. Sosok dan sikapnya menarik perhatian.
Lebih dari itu, ada kalimat yang kemudian melekat: “I allus has wan at eleven, It’s a habit wot’s gotta be done, Cos if I don’t has one at eleven, I allus has eleven at one.” Leason dan rekannya memotret Sam, lalu Leason mengilustrasikan gambarnya.
Karya itu menang, dan poster Leason dipakai perusahaan selama puluhan tahun, bahkan muncul lagi dalam iklan televisi bir mereka.
Perjalanan hidupnya berakhir di Staten Island, New York, pada 1959, saat ia berusia 70 tahun. Putrinya, Nancy Fenton, yang kini menjadi satu-satunya anak yang masih hidup dan tinggal di Los Angeles pada usia 103 tahun, menyebut sang ayah sebagai sosok hangat. “Oh, he was a wonderful father,” kata Nancy kepada ABC. “He was always taking us places or showing us things,” ujarnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.