Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Percy Leason, seniman Kaniva di balik buku The Wizard of Oz

Percy Leason dan kaitan Kaniva dengan The Wizard of Oz
Warga Kaniva kini menelusuri jejak Percy Leason lewat Wiregrass Heritage Trail yang menampilkan 43 gambar di kota itu. (Ilustrasi: AI)

Ia juga mengingat kebiasaan sang ayah yang gemar menggambar dan mengajari anak-anaknya melukis. “And I think he won a prize in the local church for a drawing he did,” kata Nancy. Bagi keluarga, bakat itu muncul dari kebiasaan sederhana yang terus diasah sejak kecil.

Kaniva akhirnya menandai nama itu lagi

Warga Kaniva baru benar-benar memberi perhatian lebih pada kisah Leason setelah Helen Hobbs, yang bekerja di pusat informasi wisata kota itu lebih dari 20 tahun lalu, bertemu seorang pria Amerika yang datang mencari jejak keluarga. Pria itu ternyata Mike Fenton, cucu Leason lainnya, yang tengah berkunjung untuk menelusuri asal-usul keluarganya.

Pertemuan singkat itu memicu langkah panjang. Kini, Kaniva meluncurkan Wiregrass Heritage Trail, yang mengambil nama dari serial kartun populer karya Leason yang pertama kali terbit 100 tahun lalu. Dalam serial itu, ia menggambarkan kehidupan kota regional dengan Kaniva sebagai inspirasi.

Seniman Sharon Marrett lalu menafsir ulang ilustrasi Leason menjadi 43 gambar yang tersebar di kota melalui jalur jalan kaki selama 45 menit. Jalur ini bukan cuma soal nostalgia.

Bagi kota kecil seperti Kaniva, trail semacam ini bisa mengubah cerita keluarga menjadi alasan orang datang, berjalan, lalu berhenti lebih lama di pusat kota. Di situ, sejarah seni bertemu wisata lokal. Dan uang belanja pengunjung ikut bergerak.

“It is finally good to see Percy getting the recognition he deserves,” kata Hobbs. Kalimat itu terasa pas untuk seorang seniman yang pernah meninggalkan Australia dengan kantong tipis, lalu ikut membantu film klasik dunia masuk ke ingatan lintas generasi.

Leason sendiri, menurut Nancy, selalu ingin pulang ke Australia. Tapi ia tak pernah mampu membayarnya. “He always wanted to return home to Australia, but he could never afford it.” Di akhir kisahnya, garis yang paling kuat justru sederhana: “There’s no place like home.”

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda