Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Massive Attack Ungkap Kronologi Penahanan Usai Kibarkan Bendera Palestina

Massive Attack Ungkap Kronologi Penahanan Usai Kibarkan Bendera Palestina
Massive Attack Ungkap Kronologi Penahanan Usai Kibarkan Bendera Palestina

JAKARTA — Band asal Inggris, Massive Attack, akhirnya buka suara terkait insiden penahanan personel mereka oleh aparat kepolisian Singapura. Peristiwa ini terjadi setelah konser mereka di Star Theatre pada 29 Juli lalu, menyusul aksi pengibaran bendera Palestina di atas panggung.

Pihak kepolisian Singapura bersama Infocomm Media Development Authority (IMDA) sebelumnya memberikan peringatan keras atas tindakan tersebut. Otoritas setempat menyoroti aksi personel band yang tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga meneriakkan slogan dukungan bagi Palestina di hadapan penonton.

Kronologi Penahanan Personel Band

Melalui unggahan resmi di Instagram, Massive Attack mengungkapkan kekecewaan mendalam atas perlakuan yang mereka terima. Band ini menceritakan bahwa setelah konser berakhir, seluruh anggota band ditahan oleh kepolisian setempat. Mereka dipisahkan satu sama lain untuk menjalani pemeriksaan secara terpisah.

Tak berhenti di sana, penggeledahan di kamar hotel tempat mereka menginap pun dilakukan. Paspor milik sejumlah anggota band sempat disita untuk sementara oleh otoritas Singapura. Kondisi ini membuat band asal Inggris tersebut terkejut karena merasa hanya menyampaikan ekspresi solidaritas.

Massive Attack menjelaskan bahwa aksi dukungan terhadap Palestina sejatinya muncul secara spontan. Sebelum band naik ke panggung dan tepat setelah pertunjukan usai, sebagian besar penonton di auditorium berinisiatif meneriakkan dukungan tersebut. Para penggemar, menurut pihak band, sadar akan potensi pelanggaran aturan sensor pemerintah namun tetap memilih untuk menyuarakannya.

Dampak dan Respons Band

Pihak Massive Attack menegaskan bahwa mereka tidak pernah membayangkan pengibaran bendera sebuah negara yang telah diakui oleh 157 negara bisa dianggap sebagai pelanggaran hukum. Mereka merasa tindakan tersebut merupakan bentuk ekspresi moral terhadap kondisi di Palestina yang dianggap sebagai pendudukan ilegal, sistem apartheid, hingga isu genosida.

Meski menghadapi konsekuensi hukum yang serius, band ini menyatakan rasa bangga atas keterlibatan spontan dari penggemar mereka di Singapura. Mereka menilai keberanian para penonton untuk menunjukkan solidaritas sebagai bentuk dorongan moral yang kuat di tengah situasi dunia saat ini.

Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan antara ekspresi artistik dan regulasi keamanan di Singapura. Hingga kini, pihak band tetap memegang teguh pendirian mereka terkait alasan di balik aksi solidaritas tersebut di atas panggung.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda