JAKARTA — Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengatakan kliennya sudah menjalani pemeriksaan kesehatan pada 25 Juli, jauh sebelum isu penyakit menular yang menyeret namanya ramai di media sosial. Pernyataan itu ia sampaikan saat menanggapi kabar yang kembali memicu perbincangan publik pada Senin, 3 Agustus 2026.
Minola menegaskan pemeriksaan laboratorium tersebut bukan reaksi spontan atas isu yang viral belakangan ini. Langkah itu, kata dia, sudah diambil lebih dulu sebagai antisipasi karena isu serupa sempat muncul berulang kali, termasuk saat proses mediasi.
Pemeriksaan kesehatan Ruben Onsu dilakukan sebelum isu membesar
Minola menjelaskan, pemeriksaan itu dilakukan sekitar 10 hari setelah mediasi pada 15 Juli 2026. Saat itu, pembicaraan soal kondisi kesehatan Ruben kembali mencuat dan dinilai perlu diantisipasi dengan bukti medis yang bisa dipakai jika persoalan yang sama muncul lagi di kemudian hari.
“Jadi bukan setelah ini naik, terus buru-buru melakukan pengecekan. Pemeriksaan itu dilakukan pada tanggal 25 Juli,” ujar Minola yang dikutip dari YouTube pada Senin, 3 Agustus 2026.
Kalimat itu jadi kunci dari penjelasan yang dibawa pihak Ruben Onsu. Intinya jelas: pemeriksaan dilakukan lebih dulu, bukan menyusul viralnya isu. Bagi publik, detail ini penting karena memberi konteks bahwa proses medis dan gaduh di media sosial tidak terjadi dalam urutan yang sama.
Asal polemik: potongan percakapan yang ditafsirkan berbeda
Minola menyebut polemik terbaru bermula setelah dirinya tampil dalam sebuah podcast bersama Denny Sumargo. Dalam kesempatan itu, ia hanya ingin meluruskan isu mengenai penggunaan dua nomor telepon milik Ruben Onsu.
Untuk membuktikan bahwa kliennya memang menggunakan dua nomor berbeda, Minola memperlihatkan tangkapan layar percakapan. Tapi bagian inilah yang kemudian melebar. Sebagian orang justru men-zoom isi percakapan tersebut dan mengaitkannya dengan dugaan konsumsi obat yang disebut-sebut punya hubungan dengan penyakit tertentu.
“Jadi saya fokus kepada materi pembuktian. Tapi mungkin ada orang yang dengan inisiatif tinggi men-zoom isi chatting tersebut. Akhirnya yang diangkat adalah kata-kata konsumsi obat penyakit tiga huruf,” ujarnya.
Potongan ini memperlihatkan bagaimana satu detail percakapan bisa berubah jadi bahan spekulasi luas ketika beredar di ruang digital. Di kasus seperti ini, konteks awal sering kalah cepat dari tafsir yang beredar.
Hasil laboratorium disebut nonreaktif
Minola menegaskan hingga saat ini tidak pernah ada dokter yang menyatakan Ruben Onsu mengidap penyakit yang ramai diperbincangkan publik. Ia juga menolak anggapan bahwa obat yang pernah dikonsumsi Ruben bisa dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan soal penyakit tertentu.
“Sementara tidak ada dokter siapapun yang memeriksa dia itu yang menyatakan dan menyampaikan bahwa dia itu kena penyakit itu. Tidak ada siapapun yang menyampaikan bahwa obat yang dia konsumsi itu adalah obat itu,” kata Minola.
Ia lalu memperlihatkan hasil pemeriksaan laboratorium yang menurutnya berasal dari salah satu laboratorium kesehatan di Indonesia. Hasil itu disebut menunjukkan status nonreaktif. Dari sudut pandang isu yang beredar, temuan ini menjadi bantahan utama yang diangkat pihak Ruben Onsu.
Bagi dunia hiburan, kasus semacam ini punya dampak langsung yang tidak kecil. Begitu isu kesehatan selebritas melebar, ruang publik cepat dipenuhi tafsir, potongan bukti, dan pembacaan sepihak. Di titik itu, hasil medis resmi dan penjelasan terbuka dari pihak terkait jadi penentu arah percakapan. Tanpa itu, kabar yang belum jelas bisa terus berputar dan menempel lama.
Minola sendiri tampak ingin menutup ruang spekulasi dengan satu penekanan: pemeriksaan sudah dilakukan sebelum isu memuncak. Dari sini, perhatian publik berikutnya tinggal menunggu apakah penjelasan dan hasil laboratorium itu cukup meredam perbincangan yang telanjur membesar di media sosial.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.