Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Allegra Spender Pernah Pakai Hoodie untuk Mengganggu Ibunya

Allegra Spender Pernah Pakai Hoodie untuk Mengganggu Ibunya
Allegra Spender Pernah Pakai Hoodie untuk Mengganggu Ibunya

JAKARTA — Allegra Spender mengingat masa remajanya dengan cerita yang cukup jenaka: ia pernah sengaja memakai hoodie untuk membuat ibunya kesal. Pengakuan itu ia sampaikan dalam program Kitchen Cabinet di ABC iview, saat membahas masa kecilnya bersama Carla Zampatti dan kehidupan keluarga yang sangat dekat dengan politik.

Anggota parlemen independen untuk Wentworth itu bercerita bahwa saat masih sekolah, liburan ia habiskan dengan ikut orang tuanya bekerja. Bukan sekadar mampir. Ia dan saudarinya, Bianca, diminta membantu di kantor setiap liburan sekolah agar paham bahwa keberhasilan menuntut kerja keras.

Allegra Spender dan masa kecil di kantor keluarga

Dalam obrolannya bersama Annabel Crabb, Allegra Spender mengatakan ia sering membantu ayahnya, John Spender, yang saat itu menjabat anggota parlemen Liberal untuk kursi federal North Sydney. Kalau tidak memasukkan amplop untuk sang ayah, ia berada di kantor ibunya, Carla Zampatti, perancang busana dan pebisnis yang namanya sangat dikenal di Australia.

Ia mengenang bagaimana sang ibu ingin anak-anaknya melihat langsung rutinitas kerja. “I remember when I was about 11 and [my sister] Bianca was 12, [Mum] wanted us to realise how hard you need to work to be successful. And so, we used to work in her office every single school holiday,” kata Allegra Spender kepada Annabel Crabb di Kitchen Cabinet.

Namun, kedekatan itu tidak selalu berjalan manis. Allegra Spender mengaku semasa remaja ia menilai dunia fashion terlalu dangkal. Ia lalu sengaja mengenakan hoodie demi mengusik ibunya. Respons Carla Zampatti pun keras. Ia bahkan membuang beberapa pakaian putrinya karena tidak suka dengan pilihan busananya.

“When I was a teenager, I was like ‘Oh mum, it’s so superficial’ and I used to wander around wearing hoodies just to annoy her. And she literally threw out some of my clothes because she hated them,” ujar Allegra Spender.

Ia juga bercerita bahwa sang ibu kerap membuatkan pakaian untuk keluarga. Di sisi lain, Allegra Spender justru meminta celana jeans baru. Yang muncul malah busana bergaya Victoria, dari bahan kord dengan kerah putih berbulu besar. Gambaran itu, menurutnya, membuat mereka seperti keluar dari lukisan era Victoria.

Lucu, tapi juga memperlihatkan jarak selera antara ibu dan anak. Di satu sisi ada Carla Zampatti yang menekankan disiplin, estetika, dan kerja keras. Di sisi lain ada remaja yang sedang mencari cara untuk berbeda.

Warisan politik yang membentuk Allegra Spender

Latar keluarga Allegra Spender tidak berhenti di ranah mode. Politik, khususnya Partai Liberal, sangat kuat dalam hidupnya. Ayahnya bergabung dengan pemerintahan Malcolm Fraser pada 1980, lalu melayani di bawah pemimpin oposisi Andrew Peacock dan John Howard.

Kakeknya, Sir Percy Spender, juga adalah anggota parlemen Liberal untuk Warringah pada masa pemerintahan Menzies. Ia dikenal sebagai “father of the Colombo Plan”, program bantuan untuk Asia Tenggara, dan ikut menegosiasikan perjanjian ANZUS. Jadi, saat Allegra Spender akhirnya masuk politik, ia membawa nama keluarga yang sudah lama akrab dengan parlemen Australia.

Meski begitu, jalan Allegra Spender ke politik tidak terasa otomatis. Ia bilang ketika mempertimbangkan karier politik, ia tidak melihat orang yang ingin ia ikuti. Setelah menjadi anggota parlemen Wentworth, tidak ada juga pemimpin Liberal yang mencoba menariknya masuk ke kubu mereka. “I mustn’t look like a Liberal to them,” katanya sambil tertawa.

Ayahnya sendiri sempat mengirim email pukul 3 pagi berisi alasan kenapa ia sebaiknya tidak maju. Tapi pada akhirnya, John Spender mendukung penuh keputusan putrinya. Tak lama setelah kemenangan pemilihannya, sang ayah meninggal hampir enam bulan kemudian. Momen itu memberi bobot emosional tersendiri pada perjalanan politik Allegra Spender.

Ia mengaku politik ternyata lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan. Yang paling ia sukai adalah membantu warga yang terjebak birokrasi, lalu ikut membentuk kebijakan publik, berdebat, dan mendorongnya sejauh yang ia yakini masih masuk akal.

Allegra Spender, Wentworth, dan alasan ia tetap maju

Setelah sempat menolak fashion di masa remaja, Allegra Spender justru akhirnya menjadi managing director label busana milik ibunya. Sementara itu, Carla Zampatti sendiri dikenal lahir di pedesaan Italia saat Perang Dunia II dan datang ke Australia saat berusia 11 tahun.

Menurut Allegra Spender, ibunya adalah migran yang sangat bangga dan amat bersyukur atas kesempatan yang diterimanya di Australia. Kalimat itu terasa penting, karena menjadi salah satu alasan mengapa keputusan Allegra Spender untuk maju di Wentworth, tak lama setelah ibunya meninggal, terasa sangat berat.

Ia mengingat pesan ibunya: “I only regret the things I didn’t do”. Dari situlah ia memikirkan perempuan, representasi, dan kebutuhan agar parlemen benar-benar mencerminkan negara yang diwakilinya.

Dalam pandangannya soal perdebatan imigrasi saat ini, Allegra Spender menilai ada pertanyaan yang wajar mengenai jumlah imigran. Namun, tantangannya jauh lebih rumit dari sekadar angka. Yang lebih sulit adalah menciptakan ruang agar orang merasa menjadi bagian dari satu komunitas, punya titik temu, dan berbagi nilai yang sama.

Itu sebabnya, cerita tentang hoodie, kantor keluarga, dan jeans yang tak jadi dibeli bukan sekadar nostalgia rumah tangga. Dari kisah kecil itu, terlihat bagaimana seorang anggota parlemen membangun cara pandangnya: dari kerja keras yang dipelajari di masa kecil, dari perbedaan yang keras kepala, lalu dari keberanian memilih jalan sendiri.

Kursi Wentworth sendiri membentang dari Watsons Bay hingga Clovelly dan mencakup Bondi Beach. Dalam episode Kitchen Cabinet itu, Allegra Spender juga menyinggung pengalaman ketika dirinya dan keluarga berada di pantai pada hari penembakan pada Desember 2025. Saat mereka meninggalkan pantai sekitar pukul 5:30pm, tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari arah footbridge.

“I think it’s the greatest fear that I had for the community, because we’ve had so many antisemitic attacks,” katanya. Ia menambahkan, “There was always a fear that there would be violence where people really got hurt.”

Bagi Allegra Spender, tugasnya kini jelas: menekan pemerintah soal keamanan dan membantu komunitas memulihkan rasa aman. Ia menyebut dirinya juga mendorong royal commission agar ada jawaban yang bisa menekan kemungkinan peristiwa serupa terjadi lagi. Episode Kitchen Cabinet itu tayang malam ini pukul 8:30pm di ABC TV atau melalui ABC iview.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda