Di sisi lain, Goldman Sachs Senior Equity Research Analyst Lizzie Dove menilai perang juga memberi tekanan pada bisnis Marriott dan sektor travel serta leisure. Perusahaan hotel dan perjalanan biasanya sensitif terhadap gangguan geopolitik, karena permintaan bisa melemah saat risiko melonjak.
Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar adu retorika. Jika Trump benar-benar mendorong pembukaan Selat Hormuz secepat yang ia klaim, maka perdagangan energi dan ongkos pengiriman bisa bergerak lebih liar. Kalau pembicaraan macet, risiko sebaliknya muncul: tekanan yang lebih besar pada aset berisiko dan industri yang bergantung pada mobilitas internasional.
Masih ada ruang negosiasi, tapi tekanannya tinggi
Trump sebelumnya juga disebut telah membatalkan rencana gelombang serangan besar setelah sekutu Teluk mendesak jalur diplomasi. Itu membuat pernyataan terbarunya terdengar seperti peringatan sekaligus tenggat politik. Pintu dialog masih dibuka, tapi sempit.
Iran, lewat bantahan resmi dan penjelasan soal peran Oman, tampaknya memilih menolak narasi Washington bahwa pembicaraan langsung sedang berjalan. Selama dua versi itu belum bertemu, pasar akan terus membaca setiap kalimat dari Gedung Putih sebagai sinyal arah konflik berikutnya.
Bloomberg, melalui reaksi Jeff Mason sebagai koresponden Gedung Putih, menempatkan pernyataan Trump ini sebagai bagian dari paket isu yang lebih luas di Washington, termasuk langkah Acting Attorney General Todd Blanche yang mencabut perintah dana anti-weaponization di DOJ.
Tetapi perhatian utama investor saat ini tetap tertuju pada Iran, Selat Hormuz, dan apakah ancaman akan berubah jadi langkah nyata dalam hitungan hari.
Kalau nada Trump bertahan seperti sekarang, pasar tidak akan menunggu lama untuk menguji seberapa jauh Washington benar-benar siap menekan Teheran. Dan satu kalimat lagi dari Gedung Putih bisa cukup untuk menggerakkan harga minyak, saham perjalanan, dan ekspektasi suku bunga ke arah yang berbeda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.