JAKARTA — Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kini berada di titik krusial. Dinamika politik sepak bola dunia sedang memanas setelah kegagalan proposal kontroversial terkait hak komersial Piala Dunia yang sempat memicu gejolak di berbagai konfederasi.
Perlawanan paling vokal datang dari Concacaf. Melalui pernyataan resmi mewakili 41 asosiasi anggotanya, konfederasi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia ini melabeli rencana tersebut sebagai tindakan yang tidak memprioritaskan sepak bola.
Bahkan, mereka menuntut adanya peninjauan mendalam terhadap kepemimpinan FIFA saat ini. Victor Montagliani, Presiden Concacaf yang juga menjabat sebagai wakil presiden FIFA, kini berada di bawah sorotan tajam, menjadikannya kandidat kuat jika desakan untuk suksesi benar-benar memuncak.
Di sisi lain, Uefa telah menempuh jalur hukum dengan mengirimkan surat preservasi dokumen ke FIFA terkait kegagalan proyek tersebut. Hubungan yang dulunya erat—mengingat Infantino adalah mantan Sekretaris Jenderal Uefa—kini retak permanen.
Protes delegasi Eropa yang meninggalkan kongres tahunan FIFA pada Mei 2025 menjadi bukti nyata retaknya komunikasi antara markas sepak bola Eropa dan otoritas tertinggi sepak bola dunia.
Kecemasan di Asia dan Stabilitas di Afrika
Situasi di AFC (Asia) jauh lebih kompleks. Meski ada kemarahan terhadap metode komunikasi FIFA yang dianggap sepihak, banyak anggota federasi di kawasan ini masih enggan mengganti Infantino.
Sheikh Salman, Presiden AFC, menghadapi tantangan besar untuk menjaga persatuan, terutama karena pengaruh kuat negara-negara Asia Barat seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang tetap memberikan dukungan kepada sang presiden.
Belum lagi tuduhan mengejutkan dari Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania, Ali bin Hussein, yang menyebut adanya praktik pemerasan oleh FIFA terkait dukungan pencalonan.
Kontras dengan dinamika panas di belahan bumi lain, Confederation of African Football (CAF) justru menunjukkan loyalitas penuh. Presiden CAF, Patrice Motsepe, secara terbuka menyatakan 54 asosiasi anggotanya bulat mendukung Infantino untuk pemilihan kembali di Maroko tahun depan.
Di Amerika Selatan, Conmebol memilih jalan pragmatis. Di bawah Alejandro Dominguez, mereka cenderung menjaga jarak dan memilih bersikap hati-hati, berusaha mempertahankan posisi tawar tanpa harus terjebak dalam konfrontasi terbuka dengan pusat kekuasaan di Zurich.
Implikasi dari perpecahan ini sangat nyata bagi masa depan tata kelola sepak bola dunia. Jika konfederasi besar seperti Uefa dan Concacaf bersatu untuk menggulingkan Infantino, maka dukungan dari Asia dan Afrika akan menjadi penentu. Namun, tanpa kandidat alternatif yang kuat dan disepakati bersama, upaya untuk mengganti pimpinan FIFA tetap menjadi tantangan politik yang sangat rumit.
“Tindakan ini merupakan gejala dari kepemimpinan yang telah berhenti menempatkan sepak bola sebagai prioritas utama,” tegas pernyataan dari Concacaf, mencerminkan sentimen negatif yang kian meluas di tingkat akar rumput organisasi sepak bola internasional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.