Jumat, 7 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Skandal Penjualan Piala Dunia: UEFA Tetap Boikot Gianni Infantino

Skandal Penjualan Piala Dunia
Skandal Penjualan Piala Dunia

RABAT — FIFA resmi mengeluarkan permohonan maaf terkait rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia yang sempat memicu kemarahan global. Meski proposal tersebut telah ditarik, badai kritik terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, belum mereda.

Pokok Peristiwa

Organisasi sepak bola Eropa, UEFA, menegaskan tetap pada pendiriannya untuk memboikot kompetisi FIFA sebagai bentuk protes atas krisis tata kelola yang terjadi.

Dalam pertemuan krisis di Rabat, Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, bersama jajaran petinggi FIFA menyatakan dukungan penuh bagi Infantino yang tengah berupaya maju dalam pemilihan presiden Maret 2027 mendatang.

FIFA mengakui adanya kekeliruan dalam proses perancangan rencana yang dikenal dengan nama FIFA Forward Enterprise tersebut. Pihak federasi menyatakan bahwa proses itu seharusnya melibatkan komunikasi yang lebih baik agar anggota tidak merasa dikucilkan.

Namun, langkah FIFA ini dianggap terlambat oleh banyak pihak. FIFPRO, serikat pemain global, secara tajam menyebut inisiatif yang dirancang tertutup itu sebagai penyalahgunaan kekuasaan.

FIFA berencana menjual hingga 20 persen saham komersial Piala Dunia kepada investor swasta, sebuah langkah yang berpotensi menghasilkan dana sebesar 4,2 miliar dolar Amerika Serikat.

Konteks

Kritik keras pun muncul karena rencana tersebut dianggap memprioritaskan kepentingan pemegang saham di atas esensi olahraga sepak bola itu sendiri.

UEFA, yang mewakili 55 negara Eropa, tetap bersikap tegas. Mereka menyatakan telah kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan Infantino dan memastikan bahwa posisi untuk terus memboikot ajang FIFA tidak berubah.

Tekanan serupa datang dari Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) yang secara resmi mendesak Infantino untuk mundur dari pencalonan. Selain itu, CONMEBOL di Amerika Selatan juga menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan di tingkat elit FIFA.

Konflik internal ini menjadi tantangan berat bagi Infantino di tengah upaya mempertahankan posisinya untuk masa jabatan keempat.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Meskipun belum ada kandidat resmi yang mendaftar untuk menantang Infantino, sejumlah nama seperti Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, dan Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, disebut-sebut sebagai kompetitor potensial.

Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyatakan tetap berada di kubu Infantino, dengan argumen bahwa tindakan yang diambil selama ini masih berada dalam koridor kerangka regulasi FIFA.

Dampak langsung dari krisis ini sangat signifikan bagi dunia sepak bola, terutama mengenai masa depan tata kelola organisasi internasional. Kepercayaan federasi nasional yang memudar berpotensi mengubah lanskap kekuasaan di tubuh FIFA menjelang pemilu 2027.

Ketegangan antara FIFA dan badan-badan konfederasi besar, terutama UEFA, menempatkan integritas proses pemilihan masa depan dalam pengawasan ketat, memaksa FIFA untuk melakukan pembenahan internal yang mendesak jika ingin memulihkan kredibilitas di mata para anggota dan publik sepak bola dunia.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda