CAPE TOWN — Komite Eksekutif Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara bulat menyatakan dukungan penuh terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Langkah tegas ini diambil di tengah meningkatnya tekanan global dan penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola di Eropa, Amerika Utara, serta Asia.
Sikap CAF yang mewakili 54 dari 211 asosiasi anggota FIFA ini menjadi oase bagi Infantino yang tengah menghadapi badai kritik. Posisi ini kontras dengan sikap UEFA yang secara terbuka menyatakan komitmen untuk memboikot Piala Dunia di semua level selama Infantino masih menjabat sebagai pucuk pimpinan tertinggi sepak bola dunia.
Solidaritas di Tengah Kontroversi
Dukungan tersebut muncul sebagai respons atas kontroversi rencana penjualan sebagian hak komersial masa depan Piala Dunia melalui inisiatif FIFA Forward Enterprise (FFE). Rencana yang memicu kemarahan federasi nasional karena merasa dikesampingkan ini akhirnya dibatalkan oleh Infantino.
Presiden CAF, Patrice Motsepe, secara terbuka menerima keputusan untuk menghentikan proposal kontroversial tersebut.
Motsepe menegaskan bahwa hubungan antara dirinya dan Infantino melampaui sekadar rekan kerja. “Saya pribadi mendukung Gianni Infantino. Dia bukan sekadar teman yang baik, melainkan teman yang loyal. Dia setia kepada Afrika,” ujar Motsepe seperti dilansir dari laporan yang dihimpun CNA.
Selain pernyataan resmi komite eksekutif, lima pemimpin sepak bola berpengaruh dari Afrika—termasuk Fouzi Lekjaa dari Maroko serta anggota Dewan FIFA dari Mesir, Niger, dan Mauritania—telah menyampaikan dukungan serupa. Mereka menyambut baik keputusan untuk membatalkan rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang sempat mengguncang posisi Infantino.
Ujian Tata Kelola FIFA
Meski memberikan dukungan, Motsepe tetap menekankan pentingnya transparansi dan tata kelola yang baik dalam setiap kebijakan FIFA ke depannya. CAF berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan FIFA guna memastikan proses pengambilan keputusan berjalan sesuai standar praktik terbaik global.
Langkah CAF ini sangat krusial bagi Infantino yang sedang bersiap menghadapi pemilihan presiden FIFA pada Maret tahun depan. Sebagai blok suara yang sangat kuat sejak 2016, dukungan dari Afrika memberikan amunisi politik bagi sang petahana untuk tetap bertahan di tengah arus kritik dari konfederasi sepak bola lain.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda konsolidasi di antara konfederasi dunia untuk mencapai titik temu terkait tata kelola organisasi. Fokus industri sepak bola kini beralih pada bagaimana FIFA merespons tuntutan transparansi yang disuarakan oleh para pemangku kepentingan setelah krisis yang nyaris meruntuhkan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.