Rabu, 23 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Gunung Butak Kembali Muncul Titik Api, Petugas Bergerak Lakukan Pemadaman Manual

Gunung Butak Kembali Muncul Titik Api, Petugas Bergerak Lakukan Pemadaman Manual
Gunung Butak Kembali Muncul Titik Api, Petugas Bergerak Lakukan Pemadaman Manual

MALANG — Titik api muncul kembali di Gunung Butak, Kabupaten Malang, Selasa pagi, setelah sebelumnya dinyatakan padam selama dua hari berturut-turut. Perum Perhutani segera menggerakkan tim untuk melakukan pemadaman secara manual di lokasi yang sama.

Pokok Peristiwa

Kebakaran hutan di kawasan ini memang telah menjadi momok berkala. Setiap kali dinyatakan padam, risiko titik api tersembunyi selalu mengintai, terutama dengan kondisi cuaca musim kemarau yang ekstrem dan aksesibilitas medan yang sulit.

Kepala tim lapangan Perum Perhutani mengatakan bahwa munculnya kembali titik api bukan karena pemadaman sebelumnya gagal, melainkan karena struktur tanah dan material organik yang mudah terbakar kembali jika terkena panas sisa atau gesekan.

“Kami sudah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap titik-titik rawan di Gunung Butak. Strategi kami kali ini lebih agresif: menempatkan pos pemantau 24 jam dan melakukan patroli rutin,” ujar pejabat Perhutani tersebut, Selasa siang.

Tim gabungan yang terdiri dari petugas Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang, dan relawan lokal bergerak dengan peralatan sederhana namun efektif. Mereka menggunakan metode manual dengan membawa air dalam tangki portabel, memecah hingga ke celah-celah terkecil tempat api bersembunyi.

Tantangan Medan Berat

Konteks

Medan Gunung Butak yang curam dan berbatu membuat akses kendaraan operasional terbatas. Mayoritas petugas harus berjalan kaki dengan membawa peralatan, sementara jalur air yang biasanya dimanfaatkan untuk pemadaman tidak selalu tersedia di setiap titik.

Kondisi ini menyulitkan respons cepat. Dari terdeteksinya api hingga tim tiba di lokasi, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 30-45 menit, bergantung pada medan dan kondisi cuaca saat itu.

Dampak kebakaran berulang ini sudah terasa nyata bagi warga setempat. Selain risiko perluasan api ke permukiman sekitar, asap tebal yang dihasilkan mengganggu kesehatan pernafasan penduduk Desa Toyomarto dan Desa Tumpang, dua wilayah terdekat dengan Gunung Butak.

Sekolah-sekolah lokal sempat mengurangi aktivitas outdoor, dan rumah sakit desa melaporkan peningkatan kunjungan pasien keluhan sesak napas.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Pertanian musiman di kaki gunung juga terdampak. Sebagian petani lokal menyatakan khawatir kalau api meluas, ladang mereka yang baru ditanami bisa hangus, termasuk persediaan pakan ternak yang disimpan di gubuk-gubuk tepi hutan.

Langkah Pencegahan Jangka Panjang

Perhutani telah menyusun rencana pencegahan lebih terstruktur. Selain patroli intensif, mereka juga merencanakan pembersihan vegetasi mati dan pembukaan sekat api (fire breaks) untuk memutus lintasan api jika terjadi kebakaran di masa depan.

Edukasi kepada warga juga menjadi fokus. Tim akan mengadakan sosialisasi tentang bahaya membuat api di dekat hutan dan pentingnya melaporkan titik api sedini mungkin melalui nomor darurat setempat.

Upaya pemadaman manual di Gunung Butak terus berlanjut hingga Selasa malam. Perum Perhutani mengonfirmasi bahwa per pukul 18:00 WIB, seluruh titik api telah berhasil dikendalikan, meskipun tim tetap melakukan pengawasan intensif untuk memastikan tidak ada api yang menyembunyi di bawah permukaan tanah yang tebal dengan material mudah terbakar.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 23 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online