MALANG — Kebakaran di Gunung Butak terus meluas meski tim gabungan sudah mengerahkan operasi darat dan udara selama tiga hari berturut-turut. Luas area terdampak sudah mencapai 1.050 hektare pada Selasa (16 September), naik dari 700 hektare pada Senin sebelumnya.
Angin kencang menjadi musuh terbesar. Apinya kini telah merambat ke Batu Tulis, wilayah hutan Kucur, dan Kricik di Kabupaten Blitar. Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang Kelik Djatmiko mengatakan water bombing sudah dilakukan 11 kali sejak Rabu pukul 06.30 sampai 11.00 WIB, namun belum juga padam.
“Sudah dilakukan water bombing selama tiga hari berturut-turut tetapi belum bisa padam karena angin yang bertiup kencang dan upaya melalui darat terkendala medan terjal,” ujar Kelik melalui pesan WhatsApp.
Operasi Darat Terhambat Medan
Upaya pemadaman dari darat dilakukan dengan membuat ilaran atau sekat bakar, mirip cara yang diterapkan petugas di Blok Gunung Malang. Namun strategi ini terkendala karena medan yang sangat terjal. Helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menjadi satu-satunya alat yang bisa menjangkau titik-titik api paling dalam.
Total 100 personel gabungan dari berbagai posko — Pesanggrahan, Selorejo, Precet, Pujon Kidul, dan Ngantang — telah dikerahkan. Mereka bekerja pada kondisi yang sangat berat: panas membara, asap tebal, dan medan yang naik turun.
Kelik menyatakan rencana water bombing akan dilanjutkan pada 17 September sambil tetap melakukan operasi darat untuk membuat sekat bakar di lokasi yang memungkinkan. Dia juga menyebut pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan BPBD mengenai operasi modifikasi cuaca (OMC) jika diperlukan untuk membantu memadamkan api.
Dampak Meluasnya Kebakaran
Peningkatan luas terdampak dari 700 hektare menjadi 1.050 hektare dalam waktu singkat menunjukkan kecepatan perambatan api yang sangat tinggi. Hal ini langsung berdampak pada ekosistem hutan, kualitas udara di sekitar wilayah Malang, Blitar, dan Kediri, serta potensi kerugian ekonomi dari hilangnya lahan produktif.
Warga di sekitar lokasi kebakaran kemungkinan mengalami gangguan pernapasan akibat asap. Visibilitas jalan juga berkurang, berpotensi mengganggu aktivitas lalu lintas terutama di malam hari. Jika api tidak segera padam, risiko perambatan ke permukiman dan areal pertanian akan semakin tinggi seiring dengan perkiraan angin yang masih kencang.
Upaya penanganan ini merupakan uji ketangguhan sistem penanggulangan bencana di Jawa Timur. Ketersediaan sarana seperti helikopter dan personel memang terbatas, sehingga koordinasi lintas daerah dan lembaga menjadi kunci untuk mencegah bencana membesar lebih jauh.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.