Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Krisis Kepemimpinan FIFA: Gianni Infantino Ditekan UEFA dan CONCACAF

Krisis Kepemimpinan FIFA
Krisis Kepemimpinan FIFA

JAKARTA — Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kini berada di titik nadir. Meski telah resmi membatalkan rencana kontroversial untuk memasukkan investasi swasta ke dalam ajang Piala Dunia, pemimpin organisasi sepak bola dunia tersebut justru menghadapi gelombang perlawanan hebat dari berbagai konfederasi benua.

UEFA menjadi pihak pertama yang melontarkan kecaman keras. Federasi sepak bola Eropa tersebut secara terbuka menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan kepada Infantino. Mereka menyebut skema pendanaan yang melibatkan anak perusahaan baru, FIFA Forward Enterprise (FFE), sebagai kesepakatan tertutup yang tidak transparan dan mencederai nilai-nilai sepak bola.

Tekanan Politik Pasca-Pembatalan Rencana

Ketegangan mencapai puncaknya setelah terungkapnya proposal senilai US$20 miliar yang sempat diusulkan FIFA pada Selasa lalu. Rencana tersebut menjanjikan pembayaran US$20 juta kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA di awal tahun 2027.

Namun, alih-alih mendapatkan dukungan, langkah tersebut justru memicu ancaman boikot dari UEFA terhadap seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia 2030.

Tak hanya Eropa, konfederasi sepak bola Amerika Utara dan Tengah, CONCACAF, turut mengambil langkah tegas. Mereka mendesak adanya pertanggungjawaban menyeluruh terhadap masa jabatan Infantino, sembari menyoroti rendahnya kualitas kepemimpinan dalam mengelola organisasi.

Senada dengan itu, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyerukan perombakan total budaya kerja di dalam tubuh FIFA agar keputusan lebih banyak melibatkan suara anggota, bukan sekadar keputusan sepihak.

Di tengah badai kritik, Infantino mencoba membela diri dalam pernyataan resminya. Ia berdalih bahwa tujuannya hanyalah untuk menyatukan dan meningkatkan kualitas sepak bola dunia. “Setelah mendengar dengan seksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang tidak lagi sesuai dengan tujuan awal,” ujar Infantino saat mengumumkan pembatalan proyek tersebut.

Dampak pada Sepak Bola Wanita

Laporan dari ESPN menyoroti bahwa dampak dari perseteruan politik ini sebenarnya sangat krusial bagi masa depan sepak bola wanita.

Mengingat Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil sudah di depan mata dan turnamen U-20 Wanita dijadwalkan berlangsung di Polandia pada 5 September mendatang, stabilitas organisasi menjadi sangat vital.

Konflik ini sempat menempatkan agenda pengembangan sepak bola wanita sebagai “medan pertempuran” pertama sebelum FIFA akhirnya melunak.

Bagi para pengamat sepak bola, pembatalan rencana investasi ini merupakan pukulan telak bagi legitimasi Infantino, terutama menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Meski ia sempat menerima dukungan dari Presiden Federasi Maroko, Fouzi Lekjaa, yang menganggap langkah pembatalan tersebut sebagai keputusan bijak, keraguan dari kekuatan sepak bola besar seperti Eropa tetap menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan kepemimpinannya.

Kini, perhatian tertuju pada bagaimana Infantino akan memulihkan harmoni di antara asosiasi anggota yang mulai terpecah. Ketidaktransparanan dalam perumusan kebijakan selama ini dinilai oleh banyak pihak sebagai preseden buruk yang harus segera dibenahi sebelum FIFA kehilangan kredibilitasnya di mata dunia.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda