Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Krisis Internal FIFA: Rencana Penjualan World Cup Dikecam Eksekutif

Markas besar FIFA di Zurich yang menjadi pusat krisis internal
Kantor pusat FIFA di Zurich, Swiss, menjadi sorotan setelah rencana kontroversial presiden mereka memicu perpecahan di tingkat eksekutif. (Ilustrasi: AI)

ZURICH — Gejolak hebat melanda markas besar FIFA di Zurich menyusul rencana kontroversial Presiden Gianni Infantino untuk menjual saham komersial ajang Piala Dunia kepada pihak swasta. Kritik tajam datang dari internal, termasuk dari Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, yang menyebut langkah tersebut sebagai proyek pribadi yang mencederai integritas organisasi.

Lamour secara terbuka menyatakan bahwa staf FIFA merasa tertipu oleh kurangnya transparansi Infantino dalam merencanakan penjualan aset tersebut selama beberapa bulan terakhir. Dalam pernyataan kerasnya, Lamour menegaskan bahwa proyek tersebut tidak boleh dilanjutkan dan mendesak para pemimpin politik sepak bola untuk mengambil keputusan yang tepat bagi masa depan olahraga ini.

Tekanan Beruntun bagi Infantino

Ketegangan di internal FIFA memuncak setelah mundurnya penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro.

Mantan bankir Goldman Sachs dan mantan Presiden Federasi Sepak Bola AS ini secara tegas menentang rencana penjualan 20 persen saham anak perusahaan komersial FIFA senilai 20 miliar dolar AS kepada investor privat.

Cordeiro menganggap langkah ini sebagai kesepakatan buruk yang menggadaikan masa depan sepak bola tanpa pembenaran yang kuat.

Menurut Cordeiro, FIFA saat ini memiliki kondisi finansial yang sangat stabil dengan cadangan uang tunai mencapai miliaran dolar dan tanpa utang. Ia menilai upaya mencari dana 4,2 miliar dolar AS dengan menjual aset paling berharga milik sepak bola sebagai tindakan yang tidak masuk akal.

Cordeiro berharap keberaniannya bersuara akan diikuti oleh staf senior FIFA lainnya yang memiliki prinsip kuat terhadap permainan ini.

Dampak bagi Ekosistem Sepak Bola

Rencana Infantino ini memang memicu gelombang perlawanan global. Selain perpecahan di level manajemen puncak, konfederasi sepak bola Eropa dilaporkan sempat mengancam akan memboikot kompetisi FIFA jika skema penjualan saham ini tidak segera dihentikan.

Situasi ini menempatkan posisi Infantino dalam tekanan besar, terutama menjelang tenggat waktu 19 September bagi federasi nasional untuk menentukan sikap terhadap proposal tersebut.

Bagi industri sepak bola secara luas, pertikaian ini menjadi alarm bahaya mengenai bagaimana aset publik dikelola oleh badan otoritas. Jika kontrol atas Piala Dunia berpindah ke tangan investor swasta, konsekuensi jangka panjang bagi ketersediaan akses, regulasi turnamen, dan kemandirian sepak bola menjadi taruhan utama yang dikhawatirkan oleh para eksekutif senior FIFA saat ini.

Lamour, yang mengaku siap kehilangan jabatannya demi membela rekan kerja dan integritas organisasi, kini menunggu perkembangan selanjutnya. Ia menyatakan kesiapannya menerima konsekuensi apa pun atas sikap kritisnya, sembari tetap berharap pihak pemangku kepentingan segera menyadari bahaya dari rencana tersebut sebelum tenggat waktu yang ditentukan berakhir pada November mendatang.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda