Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Konflik FIFA-UEFA: Masa Depan Sepak Bola Wanita Terancam

Konflik FIFA-UEFA
Konflik FIFA-UEFA

LONDON — Sepak bola wanita kini berada di ambang krisis besar menyusul memanasnya hubungan antara FIFA dan konfederasi sepak bola Eropa, UEFA. Rencana kontroversial Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mengomersialkan kompetisi utama melalui proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) memicu penolakan keras yang mengancam keberlangsungan turnamen internasional, termasuk Piala Dunia Wanita.

Setelah detail rencana FFE bocor ke publik, UEFA mengambil langkah drastis dengan mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA. Ketegangan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan pertarungan kekuasaan yang berisiko merusak pertumbuhan pesat sepak bola wanita yang telah dibangun selama beberapa dekade terakhir.

Situasi ini tergolong krusial mengingat jadwal yang sangat mendesak. Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia dijadwalkan bergulir dalam waktu 36 hari ke depan. Sementara itu, kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil akan dimulai pada Oktober mendatang. Jika UEFA tetap pada pendiriannya, turnamen-turnamen tersebut terancam kehilangan nilai kompetitif dan daya tarik globalnya.

Risiko Kehilangan Bintang Dunia

Rencana Infantino melibatkan pelepasan 20 persen saham minoritas dalam entitas komersial FFE yang akan mengendalikan aset berharga seperti hak siar, sponsor, hingga tiket Piala Dunia pria maupun wanita.

Kritikus menilai langkah ini akan mengorbankan integritas olahraga demi memaksimalkan keuntungan finansial. Dampaknya, kekhawatiran mengenai kesejahteraan pemain dan aksesibilitas bagi penggemar semakin menguat.

Penolakan terhadap proposal FFE tidak hanya datang dari UEFA. Konfederasi sepak bola Amerika Utara (Concacaf) dan Asia (AFC) juga telah menyatakan ketidaksetujuan mereka. Secara total, 143 federasi nasional kini berdiri di posisi berlawanan dengan rencana FIFA, jauh melampaui 106 suara yang dibutuhkan Infantino untuk meloloskan proposalnya.

Bagi sepak bola wanita, sebuah turnamen tanpa partisipasi Eropa akan menjadi pukulan telak. Kehilangan tim-tim besar seperti Spanyol, Inggris, Jerman, Prancis, Swedia, dan Belanda berarti absennya enam dari 10 tim peringkat atas FIFA.

Selain itu, panggung dunia akan kehilangan bintang-bintang besar seperti pemenang Ballon d’Or, Alexia Putellas dan Aitana Bonmatí, yang menjadi motor penggerak popularitas olahraga ini.

Dampak Finansial yang Signifikan

Piala Dunia Wanita 2023 mencatatkan kesuksesan finansial dengan pendapatan sekitar $570 juta, di mana $455,9 juta di antaranya berasal dari hak komersial dan pemasaran. Turnamen tersebut menyediakan total hadiah sebesar $110 juta yang dibayarkan langsung kepada pemain, sebuah pencapaian yang menandai kemandirian finansial bagi banyak atlet wanita.

Juara bertahan Spanyol tercatat menerima sekitar $4,2 juta, dengan setiap pemain mendapatkan sekitar $270.000. Jika boikot benar-benar terjadi, bukan hanya prestise turnamen yang hilang, tetapi potensi pendapatan bagi federasi dan pemain juga terancam terhenti.

FIFA menetapkan batas waktu hingga 19 September bagi federasi nasional untuk merespons proposal FFE. Jika kebuntuan ini terus berlanjut, legitimasi FIFA sebagai organisasi sepak bola dunia akan diuji secara mendalam.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda