JAKARTA — Prabowonomics bukan mazhab ekonomi baru. Istilah yang kembali menjadi perbincangan setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperingati hari lahirnya yang ke-28 itu adalah ikhtiar untuk mengembalikan pembangunan Indonesia sesuai amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyebut tema peringatan itu, ‘Arah Baru Amanat Ekonomi Konstitusi’, sebagai bentuk syukur dan kesungguhan partainya. Dia menyingkatnya dalam satu kata: Prabowonomics, mengambil inspirasi dari semangat Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk terus menjadi kekuatan bangsa yang mandiri dan kokoh berdasarkan kekuatan sendiri, kami semua PKB terinspirasi dengan semangat dan kesungguhan Bapak Presiden untuk terus mengawal arah baru ekonomi di tengah berbagai tantangan yang tidak mudah, baik geo-ekonomi maupun geo-politik,” ujar Cak Imin di Jakarta, Kamis (23/7).
Kembali ke Fondasi Konstitusi
Presiden Prabowo sendiri telah menjelaskan: Prabowonomics bukan teori ekonomi baru. Ia adalah upaya menyelaraskan arah pembangunan dengan apa yang sudah tertulis di konstitusi sejak awal. UUD 1945 memang telah memberikan arahan sangat jelas tentang bagaimana ekonomi nasional harus dibangun.
Pasal 33 ayat (1) menegaskan bahwa “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.” Inilah fondasi yang ingin diperkuat kembali melalui Prabowonomics. Bukan sesuatu yang baru diciptakan, melainkan pengembalian ke prinsip-prinsip dasar yang sudah ada dan teruji.
Ukuran Kesuksesan: Manfaat Nyata bagi Rakyat
Bagaimanapun, Prabowonomics akan dinilai bukan dari seberapa sering istilah itu diucapkan di berbagai forum atau pidato. Penilaian sesungguhnya akan datang dari seberapa besar manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat Indonesia—mulai dari lapisan pekerja, petani, hingga pengusaha kecil menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
PKB memandang konsep ini sebagai peluang untuk memperkuat kolaborasi antarlapisan masyarakat, antara pemerintah dan dunia usaha, dalam menghadapi gejolak ekonomi global yang terus bergerak dinamis. Dengan mengandalkan kekuatan sendiri dan semangat kekeluargaan, Indonesia diharapkan mampu tidak hanya bertahan tetapi tumbuh berkelanjutan.
Momentum peringatan hari lahir PKB ke-28 menjadi kesempatan untuk mengingatkan bahwa ekonomi yang kuat bukan hanya soal angka pertumbuhan atau investasi besar, melainkan seberapa erat jalinan solidaritas dan kemandirian yang terbangun dari akar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.