JAKARTA — Film miliaran dolar kembali ramai di Hollywood pada 2026, dan film miliaran dolar itu kini dipimpin oleh Sony dan Marvel lewat Spider-Man: Brand New Day yang baru saja melampaui patokan bergengsi tersebut. Film itu menjadi judul keempat yang mencapai angka US$1 miliar tahun ini, mengikuti The Super Mario Galaxy Movie, Michael, dan Toy Story 5.
Gelombang ini belum berhenti. Universal lewat The Odyssey sudah mengumpulkan US$912 juta secara global hingga Minggu dan masih dijadwalkan tayang di bioskop setidaknya sampai pertengahan September. Di saat yang sama, analis box office juga memproyeksikan Dune: Part Three dari Warner Bros. dan Avengers: Doomsday dari Disney dan Marvel ikut menembus angka serupa sebelum tahun berakhir.
Film miliaran dolar kembali jadi tolok ukur Hollywood
CNBC melaporkan, jumlah film yang melampaui US$1 miliar pada 2026 menjadi yang tertinggi dalam satu tahun sejak pandemi Covid-19 menutup bioskop dan menghentikan produksi enam tahun lalu. Bagi industri film, angka ini bukan sekadar statistik. Ini sinyal bahwa layar lebar belum kehilangan tenaga.
Pada 2019, ada sembilan film yang meraup sedikitnya US$1 miliar di box office. Tujuh di antaranya datang dari Disney. Sisa daftar kala itu diisi oleh Spider-Man: Far From Home, hasil kerja sama Disney dan Sony, serta Joker dari Warner Bros. Tahun ini, peta suksesnya jauh lebih menyebar. Studio yang terlibat datang dari banyak arah, bukan satu pemain dominan seperti dulu.
“The billion-dollar club has always been treated as a special box office milestone,” kata Shawn Robbins, director of analytics di Fandango sekaligus pendiri Box Office Theory. “It’s also one that’s become more challenging to achieve since the pandemic.” Ia menambahkan, “The sheer number of films crossing this threshold can be a good indicator of a banner year.”
Tiket premium ikut mengerek angka
Salah satu alasan kenapa film-film besar ini kembali mendekati atau melewati US$1 miliar datang dari harga tiket yang lebih mahal. Format layar premium seperti Imax, Dolby Cinemas, ScreenX, dan 4DX ikut mencatat penjualan yang memecahkan rekor berkat judul-judul seperti The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day.
Data EntTelligence menunjukkan, pada 2025 lebih dari 16% tiket yang terjual untuk tayangan domestik berasal dari format premium tersebut. Angka itu naik dari 15% pada 2024 dan 13,8% pada 2023. Harga tiket premium juga ikut menanjak. Di New York City atau Los Angeles, harganya bisa lebih dari US$25, sementara rata-ratanya secara nasional sekitar US$18.22 per lembar. Itu naik 8% dari 2023.
Tiket reguler pun tidak murah lagi. Pada 2019, harga rata-rata tiket bioskop sedikit di atas US$9 menurut Cinema United. Kini, rata-ratanya mendekati US$13.50 menurut EntTelligence. Buat industri, selisih ini membantu mengangkat pendapatan. Buat penonton, bioskop jelas bukan lagi hiburan yang terasa sama murahnya seperti enam tahun lalu.
Soal pentingnya: bioskop masih punya daya tarik
Di titik ini, yang paling terasa bukan cuma jumlah film yang laku, tapi bagaimana Hollywood membagi ulang risiko. Tahun ini, daftar film miliaran dolar datang dari studio berbeda dan tidak hanya diisi sekuel atau waralaba. Ada biopik musikal dan ada pula adaptasi sinematik dari puisi berusia 2.700 tahun. Itu menandakan pasar masih memberi ruang untuk genre yang beragam.
Dari sisi bisnis, ini kabar penting bagi studio, pemilik jaringan bioskop, dan distributor di banyak negara, termasuk Indonesia yang ikut hidup dari denyut film global. Jika judul besar terus menarik penonton ke layar lebar, maka bioskop punya ruang napas lebih panjang.
Harga tiket bisa naik, format premium makin dipakai, dan studio pun lebih berani menaruh modal pada proyek yang sebelumnya dianggap berisiko.
Shawn Robbins melihat ukuran ini sebagai tanda tahun yang kuat bagi box office. Mike Polydoros, CEO cinema marketing firm PaperAirplane Media, bahkan menyebut, “The demise of the theatrical experience has once again been greatly exaggerated.” Menurut dia, dorongan besar datang dari Gen Z.
Gen Z dan pasar internasional jadi penentu
Polydoros mengatakan Gen Z menyumbang 49% penonton hari pembukaan Spider-Man: Brand New Day dan 30% penonton hari pembukaan The Odyssey. Rentang usia Gen Z, sekitar 14 sampai 29 tahun, juga membuat kelompok ini menjadi salah satu demografi paling aktif ke bioskop. Rentrak melaporkan, pada 2025 Gen Z menyumbang hampir 40% dari seluruh penonton film di Amerika Utara.
Dukungan juga datang dari luar Amerika Serikat. Dari empat film yang sudah melampaui US$1 miliar secara global tahun ini, lebih dari 50% pendapatannya berasal dari luar AS dan Kanada. Itu menegaskan betapa pentingnya pasar internasional untuk Hollywood, terutama saat studio mengejar angka besar dengan biaya yang juga tidak kecil.
Paul Dergarabedian, head of marketplace trends untuk Rentrak, mengatakan kepada CNBC bahwa belum pernah ada film yang dirilis domestik lalu menghasilkan lebih dari US$1 miliar hanya dari Amerika Utara. “Only ‘Star Wars: The Force Awakens’ has even come close, with $936.7 million,” ujarnya. Dan angka itu masih berdiri sebagai batas yang belum tersentuh sampai sekarang.
Di sisi lain, tahun ini box office domestik AS sedang bergerak menuju level yang lama hilang. Hingga Senin, total pendapatan tahunan sudah mencapai US$6.2 miliar, turun 11% dari 2019, tapi laju keseluruhannya masih mengarah ke tembus US$10 miliar untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Untuk Hollywood, satu angka besar lain masih diburu. Bukan US$1 miliar per film saja, melainkan pemulihan penuh yang benar-benar terasa di kas studio dan kursi bioskop.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.