Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Krisis Gianni Infantino: Mengapa Sepak Bola Baru Melawan Sekarang?

Markas FIFA di Salé, Maroko, tempat Gianni Infantino menghadapi krisis kepemimpinan
Gedung markas FIFA di Salé, Maroko, menjadi saksi upaya terakhir Gianni Infantino mempertahankan posisinya. (Ilustrasi: AI)

SALÉ — Gianni Infantino kini terisolasi di markas FIFA di Salé, Maroko. Presiden FIFA tersebut dilaporkan sedang berupaya keras mempertahankan posisinya di tengah gelombang pembangkangan massal dari konfederasi sepak bola dunia.

Posisi Infantino goyah setelah rencana kontroversialnya untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta memicu amarah besar di kalangan petinggi asosiasi sepak bola.

Luís Figo, salah satu legenda sepak bola yang sempat menjadi duta organisasi, secara terbuka mendesak Infantino untuk mundur. Figo menilai manuver penjualan saham tersebut sebagai tindakan paling egois dan menipu yang pernah ia saksikan.

Di balik layar, UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kini disebut tengah merancang perlawanan terstruktur. Opsi boikot tata kelola hingga pembentukan kompetisi tandingan sebagai bentuk suksesi mulai dipertimbangkan dengan serius.

Pola Manipulasi dan Pertanyaan Tentang Waktu

Munculnya perlawanan ini menyisakan pertanyaan besar: mengapa baru sekarang? Selama hampir satu dekade, FIFA di bawah kepemimpinan Infantino telah melewati berbagai kontroversi tanpa hambatan berarti.

Mulai dari penganugerahan Piala Dunia 2034 kepada Arab Saudi, ketergantungan pada model bisnis yang dipertanyakan, hingga isu kesejahteraan pemain dalam Piala Dunia Antarklub, semuanya seolah berjalan mulus tanpa protes keras dari federasi anggota.

Analisis menunjukkan bahwa selama ini, sistem di dalam FIFA bekerja layaknya sebuah keluarga mafia yang terikat oleh jaringan tribut dan perlindungan, bukan konsensus publik. Laporan dari Times menyebutkan adanya upaya pemerasan terhadap anggota agar terus mendukung sang presiden.

Bahkan, Times of India menyoroti ketegangan memuncak saat UEFA memperingatkan FIFA untuk tidak menghancurkan bukti terkait kegagalan rencana penjualan hak komersial tersebut.

Secara ekonomi, proposal penjualan saham senilai 20 miliar dolar AS yang dipaksakan Infantino dianggap tidak masuk akal secara teknis. Dengan target tenggat waktu 19 September, banyak pengamat menilai pendekatan ini bukan langkah strategis untuk memaksimalkan nilai aset, melainkan upaya terakhir untuk mengamankan keuntungan pribadi sebelum masa jabatannya berakhir.

Dampak bagi Ekosistem Sepak Bola

Dinamika yang terjadi di Salé saat ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik organisasi yang terlalu lama beroperasi di luar jangkauan hukum konvensional. Bagi industri sepak bola, ketidakpastian ini menciptakan preseden buruk dalam tata kelola global.

Jika federasi besar benar-benar mengambil opsi pemisahan diri, struktur ekonomi olahraga yang sudah mapan selama puluhan tahun terancam mengalami pergeseran drastis.

Upaya Infantino untuk mencari perlindungan dari figur politik global, termasuk dilaporkan mencoba menghubungi Donald Trump, menunjukkan betapa krusialnya posisi ini bagi sang presiden. Namun, bagi publik sepak bola, drama di Maroko ini menjadi momen transisi.

Sepak bola sebagai olahraga massa akan tetap bertahan, namun wajah organisasi yang menaunginya kini tampak retak dan membutuhkan reformasi mendasar untuk lepas dari bayang-bayang praktik otoriter.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda