Kita melihat bagaimana UU Bank Indonesia tahun 1968 menjadi saksi bisu upaya Indonesia mencari titik tengah. Regulasi itu mencoba meletakkan fondasi independensi, meski realitanya sering kali compang-camping tergerus kepentingan rejim yang berganti-ganti.
Tidak ada solusi instan. Tidak ada rumus ajaib yang berlaku di setiap zaman. Sumitronomics mengajarkan bahwa ekonomi adalah seni mengelola ketidaksempurnaan. Jika bank sentral terlalu independen, mereka bisa menjadi menara gading yang tidak peka.
Namun, jika pemerintah terlalu dominan, risiko percetakan uang berlebihan untuk menambal defisit fiskal—yang berujung pada hiperinflasi—bukanlah sekadar ancaman, melainkan keniscayaan yang mengerikan.
Perdebatan ini tidak pernah benar-benar selesai. Setiap kali rupiah bergoyang atau suku bunga diumumkan, hantu perdebatan Sumitro dan Teunissen seolah bangkit kembali. Kita dipaksa untuk terus bereksperimen dengan desain institusi kita sendiri. Bagaimana menyeimbangkan otonomi teknis para bankir sentral dengan akuntabilitas politik pemerintah yang dipilih oleh suara rakyat?
Para pengambil kebijakan di Indonesia saat ini masih bergulat dengan warisan ini. Mereka tidak bisa mengabaikan bahwa stabilitas harga tetap krusial, tapi mereka juga tidak boleh tuli terhadap jeritan pertumbuhan ekonomi yang merata. Sumitro Djojohadikusumo tidak meninggalkan dogma yang kaku.
Ia meninggalkan sebuah peta untuk berpikir kritis, menuntut setiap generasi untuk merancang kembali hubungan otoritas moneter yang relevan dengan zaman.
Melihat kondisi pasar keuangan global yang semakin tak terduga, argumen Sumitro justru tampak lebih relevan. Sinergi fiskal dan moneter kini bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan mendesak.
Bank Indonesia dan pemerintah kini lebih sering duduk di meja yang sama, mencari irama yang selaras untuk mengawal ekonomi nasional agar tidak oleng diterjang badai eksternal.
Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa koordinasi ini tidak mengorbankan independensi yang telah dibangun dengan susah payah selama masa transisi demokrasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.