MADIUN — Seratus personel relawan Desa/Kelurahan Tanggap Bencana (Destana) dari seluruh wilayah Kota Madiun, Jawa Timur, mengasah kemampuan penyelamatan air di Taman Bantaran Kota Madiun, Kamis 23 September 2026. Pelatihan dua hari ini digelar BPBD setempat untuk mempersiapkan relawan menghadapi kedaruratan terkait bencana hidrometeorologi.
“Pelatihan hari ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi kondisi kedaruratan, khususnya kejadian yang berkaitan dengan perairan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso.
Materi Praktik Komprehensif
Program pelatihan mencakup pengenalan peralatan water rescue, metode penyelamatan di perairan, resusitasi jantung paru (RJP), pengoperasian perahu karet, teknik mendayung, hingga proses evakuasi korban. Hari pertama (23 September) diisi pemaparan materi, sementara hari kedua fokus praktik lapangan di lokasi yang relevan dengan simulasi darurat.
“Ada materi terkait pengenalan alat, metode penyelamatan di perairan, dan resusitasi jantung paru-paru. Hari ini semua yang disampaikan dipraktikkan di lapangan,” kata Deddy, menjelaskan integrasi teori dan aplikasi lapangan.
Peserta terdiri dari relawan setiap kelurahan di Kota Madiun yang mengirimkan dua hingga empat orang. Namun, kelurahan dengan potensi risiko banjir tinggi menambah kuota mereka. “Kalau Kelurahan Tawangrejo, Kelun, dan Pilangbango yang termasuk kawasan rawan banjir, maka mengirimkan lebih banyak relawan,” jelasnya.
Garda Terdepan Penanggulangan Bencana
Relawan terlatih diharapkan menjadi responden pertama saat kedaruratan di wilayah masing-masing sebelum BPBD melakukan intervensi lebih lanjut. Posisi Destana sebagai petugas berbasis komunitas membuat mereka krusial dalam jam-jam awal bencana.
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun menekankan pentingnya upaya preventif ini. “Mitigasi, sosialisasi sekaligus praktik ini harus rutin digelar. Kita tidak tahu kapan yang namanya bencana itu hadir. Ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan para relawan dan masyarakat sekaligus mitigasi dalam menghadapi bencana,” katanya.
Kota Madiun menghadapi tantangan hidrometeorologi khususnya saat musim hujan, ditambah letaknya yang berada di aliran Sungai Bengawan Madiun. Potensi banjir dan aliran air deras menjadikan pelatihan water rescue relevan dan mendesak.
Pemetaan Risiko dan Kolaborasi Lintas Sektor
Pemkot Madiun tidak hanya fokus kapasitas relawan, tetapi juga pemetaan wilayah rawan bencana berdasarkan data BPBD dan laporan relawan di tingkat kelurahan. Informasi tersebut menjadi acuan dalam penempatan sumber daya dan perencanaan mitigasi.
Pemerintah kota juga melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk edukasi kebencanaan kepada masyarakat di sekitar wilayah sungai. Fokus BBWS pada pengelolaan aliran air dan upaya pengendalian risiko banjir memperkuat pendekatan holistik.
Plt Wali Kota menginginkan pelatihan water rescue menjadi bagian berkelanjutan dari kesiapsiagaan masyarakat Kota Madiun. Dengan Destana yang tersebar di setiap kelurahan, komunitas memiliki ujung tombak respons bencana yang dekat dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.