Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Sumitronomics: Debat Sejarah Otoritas Moneter Bank Sentral vs Pemerintah

Sumitro Djojohadikusumo, ekonom legendaris Indonesia, dalam diskusi kebijakan moneter
Sumitro Djojohadikusumo, arsitek kebijakan ekonomi Indonesia, yang pemikirannya membentuk Sumitronomics dan debat otoritas moneter bank sentral. (Ilustrasi: AI)

Tangan dingin Sumitro Djojohadikusumo membelah arus pemikiran ekonomi Indonesia saat ia berhadapan langsung dengan Teunissen.

Debat panas ini bukan sekadar adu argumen akademisi di ruang kelas, melainkan pergulatan nasib otoritas moneter yang menentukan arah kebijakan keuangan negara pasca-kemerdekaan. Siapa yang berhak memegang kendali penuh atas uang: bank sentral yang dingin atau pemerintah yang penuh tekanan politik?

Kisah ini menjadi fondasi apa yang sekarang kita kenal sebagai “Sumitronomics”. Sebuah ideologi yang lahir dari keringat praktisi, bukan sekadar tinta pena di menara gading. Di satu sudut, Teunissen membawa standar internasional yang menuntut otonomi ketat bagi bank sentral guna membendung inflasi.

Di sudut lain, Sumitro melihat realitas di lapangan yang jauh lebih pahit; kebutuhan pembangunan yang mendesak menuntut koordinasi erat antara otoritas moneter dan pemerintah.

Akar Konflik Ideologi

Sumitro tidak pernah menjadi pengikut buta teori-teori Barat yang diimpor mentah-mentah. Ia mencium ada yang tidak beres. Teori ekonomi yang dibuat untuk negara maju seringkali gagal total saat mendarat di negara berkembang dengan institusi yang belum matang. Baginya, menyerahkan kendali moneter sepenuhnya pada bank sentral tanpa mempertimbangkan urgensi pembangunan adalah langkah yang naif.

Perdebatan dengan Teunissen menjadi titik didih. Saat Teunissen bersikukuh bahwa intervensi pemerintah akan merusak kredibilitas moneter, Sumitro justru mempertanyakan: apa gunanya stabilitas harga jika rakyat masih kelaparan karena ekonomi stagnan?

Sumitro menekankan bahwa kebijakan moneter tidak bisa berdiri di ruang hampa. Ia harus menjadi instrumen untuk memicu pertumbuhan, bukan sekadar alat penjaga nilai tukar yang kaku.

Bayangkan situasi Indonesia kala itu. Infrastruktur rusak, modal cekak, dan tuntutan kesejahteraan rakyat meluap setelah puluhan tahun terjajah. Dalam kondisi sesulit itu, apakah masuk akal membiarkan bank sentral bertindak seperti lembaga otonom yang tak peduli pada target pembangunan pemerintah?

Sumitro menjawab dengan visi yang mengutamakan pragmatisme. Ia menuntut keterlibatan pemerintah dalam setiap kebijakan moneter yang krusial.

Dilema Modern dan Warisan Sejarah

Pertanyaan yang dilemparkan Sumitro puluhan tahun lalu masih menghantui ruang-ruang rapat ekonomi hari ini. Ketika pemerintah ingin memacu pertumbuhan, namun bank sentral takut inflasi, di situlah letak konfliknya.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda