Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 1.751 Orang, WHO Beri Peringatan Keras

Wabah Ebola di Kongo menewaskan 1.751 orang
Petugas kesehatan menangani respons wabah Ebola di Kongo saat kasus dan kematian terus bertambah. (Ilustrasi: AI)

KINSHASA — Wabah Ebola di Kongo terus melaju cepat dan kini sudah menewaskan 1.751 orang, menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Kongo per Senin. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut penularannya sudah bergerak lebih cepat daripada upaya penahanan, saat krisis ini juga dipersulit aksi mogok sebagian petugas kesehatan yang belum dibayar.

Dampaknya terasa langsung di Ituri, provinsi yang menjadi episentrum wabah. Akses layanan kesehatan makin sulit, sementara keluarga di wilayah itu menghadapi konflik bersenjata, jarak yang jauh, dan sistem respons yang belum stabil. Situasi ini membuat penanganan kasus baru berjalan lebih lambat dari penyebaran penyakit.

WHO minta respons diperbesar

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan wabah ini kini menyebar pada tingkat yang melampaui upaya pengendalian. Ia menyampaikan peringatan itu pada Rabu setelah bertemu pejabat di Kinshasa, dalam kunjungan keduanya ke negara itu sejak krisis dimulai.

“We all agree that we must urgently and massively scale up all our efforts across all pillars of the response and by all partners,” kata Tedros dalam unggahannya di X. WHO menilai semua pihak harus bergerak serentak, dari deteksi kasus hingga pelibatan komunitas di wilayah terdampak.

Data Kementerian Kesehatan Kongo menunjukkan wabah ini telah mencapai 3.874 kasus terkonfirmasi dan 1.751 kematian. Dalam 24 jam terakhir yang dilaporkan, 77 kasus terbaru tercatat dan 44 di antaranya berujung fatal. Ada 717 pasien yang sedang diisolasi, sementara 749 orang sudah pulih.

Fokus penularan dan respons lapangan

Di Ituri, keluarga pasien mengeluhkan tenaga kesehatan di garis depan ikut mogok kerja. Mereka menuntut upah yang lebih baik, meski sebagian pekerja baru-baru ini mulai menerima pembayaran atas kerja mereka sejak wabah dimulai. Seorang warga Bunia, ibu kota Ituri, mengatakan dua saudaranya meninggal akibat Ebola dan mengaitkannya dengan aksi mogok itu.

“We urge the authorities to quickly find a solution to prevent other families from experiencing the same tragedy,” kata Anicet Baluku kepada The Associated Press. Keluhan seperti ini penting karena di wilayah terpencil, satu gangguan kecil saja bisa memutus rantai perawatan pasien.

Dr. Jean Kaseya, kepala Africa CDC, menyebut pelacakan kontak sedang gagal. Menurutnya, setidaknya 60 sampai 70 persen kasus baru muncul dari individu yang tidak sedang dipantau setelah terpapar. Ia juga mengaitkan fatalitas 45 persen dengan deteksi kasus yang terlambat.

Dananya naik, tantangannya belum selesai

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu mengumumkan tambahan pendanaan sebesar $242 juta untuk respons segera, kesiapsiagaan Ebola, dan bantuan kemanusiaan di kawasan itu. Dengan tambahan ini, total bantuan langsung AS disebut melampaui $512 juta.

Tambahan dana memang memperbesar kapasitas respons. Tapi angka di lapangan menunjukkan masalah utama belum selesai: penemuan kasus yang lambat, rantai kontak yang putus, dan layanan kesehatan yang tak menjangkau semua komunitas dengan cepat.

Doctors Without Borders pada Rabu menyebut wabah ini masih “spreading at an alarming and unprecedented rate” dan memperingatkan bahwa respons yang ada belum cukup cepat untuk memutus rantai penularan.

Bundibugyo virus yang memicu krisis saat ini belum punya pengobatan atau vaksin yang disetujui, sementara pejabat lokal menilai virus itu sudah beredar di wilayah terpencil jauh sebelum diumumkan resmi pada 15 Mei.

Tedros menutup seruannya dengan desakan agar semua lokasi terdampak segera dijangkau, koordinasi dipertegas di bawah pimpinan pemerintah, dan petugas kesehatan dilindungi. “Above all, communities must be at the center of and have ownership of the response,” ujarnya. “We cannot stop Ebola without their trust, leadership and partnership.”

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda