BELGRADE — kunjungan Zelenskyy ke Serbia pada Jumat menjadi langkah resmi pertama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy ke negara yang masih luas dipandang pro-Rusia di Eropa. Pertemuan ini langsung menempatkan Presiden Serbia Aleksandar Vucic di posisi sulit: menjaga hubungan dengan Moskow, sambil tetap memberi sinyal positif ke Uni Eropa.
Bagi Kyiv, lawatan itu bukan sekadar seremoni. Ada kepentingan yang lebih praktis di belakangnya, mulai dari kerja sama energi hingga peluang mendapatkan amunisi dan dukungan industri pertahanan dari Serbia.
Balik layar politik di Belgrade
Zelenskyy dan Vucic sebenarnya sudah beberapa kali bertemu di forum multilateral. Pertemuan terakhir berlangsung pada 15 Juli 2026 di Kyiv. Namun, kedatangan Zelenskyy kali ini adalah kunjungan resmi pertama ke Serbia, setelah beberapa kali tertunda.
Waktu kunjungan itu terasa pas sekaligus rumit. Vucic sedang menghadapi masa politik yang padat menjelang pemilihan parlemen penting.
Gerakan protes yang dipimpin mahasiswa berencana mengajukan daftar calon sendiri dan disebut punya peluang realistis untuk menantang Vucic secara serius untuk pertama kalinya. Di saat yang sama, lawan-lawan Vucic menuduhnya korupsi serta mengontrol media dan peradilan.
Vucic mencoba menampilkan lawatan ini sebagai urusan negara biasa. Ia mengatakan, “We have several important issues to discuss. One is Ukraine’s and Serbia’s path toward Europe; the second is our bilateral and energy cooperation.”
Pengamat politik Djordje Vukadinovic menilai kunjungan ini menguntungkan kedua pihak. “Zelenskyy welcomes anything that comes across as a kind of slap in the face for [Russian President] Putin,” kata dia kepada DW. “That also applies to the European Union, which certainly played a role in making this meeting happen.”
Senjata, energi, dan sinyal ke Brussels
Di sisi Ukraina, topik yang paling sensitif justru bisa jadi soal persenjataan. Meski Serbia mempertahankan sikap ramah ke Rusia dan menolak sanksi anti-Rusia, sejumlah besar peluru artileri Serbia dilaporkan sudah sampai ke Ukraina lewat perantara. Financial Times bahkan memperkirakan nilai barang militer yang dikirim ke Ukraina mencapai €1 miliar ($1.15 billion) pada 2024.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.