Pemerintah dan DPR RI kini sedang meracik ulang aturan main ambang batas parlemen atau parliamentary threshold untuk Pemilu 2029. Di balik lobi-lobi politik yang masih berjalan alot di Senayan, Partai Hanura justru mengambil sikap tegas. Mereka menyatakan siap bertarung dalam kontestasi politik mendatang tanpa memedulikan berapa pun angka ambang batas yang nantinya akan dipatok oleh penguasa.
Ketua Tim Task Force DPP Partai Hanura, Rio Capella, tidak ingin partainya terjebak dalam perdebatan angka yang belum final. Baginya, aturan hanyalah sekadar rambu. Komitmen untuk patuh pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2024 menjadi pegangan utama mereka, terutama setelah MK mengamanatkan adanya perubahan ambang batas sebesar empat persen sebelum 2029 tiba.
“Berapa pun parliamentary threshold, Hanura menyatakan siap untuk menghadapi pemilu itu. Tidak ada keraguan sedikit pun pada kami,” ujar Rio dengan nada bicara yang mantap saat menemui wartawan di Serang, Minggu (9/8/2026). Ia menekankan bahwa keberhasilan Hanura nanti bukan ditentukan oleh seberapa besar ambang batas yang ditetapkan, melainkan oleh keringat dan kerja keras kader di akar rumput.
Strategi Konsolidasi Akar Rumput
Gerak cepat dilakukan. Banten kini menjadi titik mula pergerakan Satuan Tugas (Satgas) Hanura yang akan menyisir seluruh wilayah di Indonesia. Bagi Rio, hasil Pemilu 2024 adalah catatan sejarah yang harus segera dibenahi. Ia tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu. Evaluasi kini sudah di meja kerja.
Target penguatan struktur pun dipatok tidak main-main. Rio mewajibkan setiap desa di tanah air memiliki minimal sepuluh kader aktif yang memegang Kartu Tanda Anggota (KTA). Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Mereka ingin membangun benteng pertahanan politik yang nyata hingga ke pelosok-pelosok desa.
“Kita sadar untuk memenangkan Pemilu 2029 bukan dengan pidato berapi-api atau sekadar rapat. Partai ini bisa bangkit jika kader bekerja dengan niat tulus dan rakyat kembali percaya,” kata Rio. Ia meyakini, pendekatan personal kepada warga menjadi kunci utama untuk meraup suara. Tidak ada lagi jalan pintas untuk meraih simpati pemilih.
Disiplin dan Sanksi Pemecatan
Di balik semangat optimisme itu, Rio menyisipkan peringatan keras. Ia tidak ingin mendengar ada pengurus partai di daerah yang menebar keraguan. Loyalitas bagi Rio bukan lagi soal imbauan, melainkan syarat mutlak bagi siapa saja yang duduk di kursi pimpinan cabang.
Sikap tegas pun disiapkan. Jika ditemukan pimpinan DPC yang justru menunjukkan mentalitas pesimis atau menghambat langkah partai, Rio tidak akan sungkan untuk bertindak. Sanksi pemecatan sudah disiapkan di depan mata. Bagi dia, organisasi politik yang sedang berjuang tidak boleh memiliki penumpang gelap atau anggota yang setengah hati.
“Tidak boleh ada satu dua orang yang mengganjal perjuangan kita untuk menghadapi Pemilu 2029. Ketua DPC harus membangun optimisme. Kalau ada pimpinan yang justru merasa berat atau ragu dengan masa depan partai, pilihannya hanya satu: pecat,” tegas Rio dengan nada tinggi di hadapan para kadernya.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa Hanura sedang melakukan bersih-bersih internal. Konsolidasi yang dilakukan di Banten ini hanyalah pembuka dari rangkaian pembenahan besar-besaran. Partai kini menanti ketetapan final dari revisi Undang-Undang Pemilu sembari terus memperkuat basis massa di lapangan.
Fokus mereka satu: lolos dari lubang jarum ambang batas parlemen dan kembali mendudukkan perwakilan di Senayan lima tahun lagi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.