Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Fitur AI Remix Spotify Bakal Hadir: Ancaman Baru Bagi Musisi?

Tampilan antarmuka fitur AI remix pada aplikasi musik Spotify
Spotify berencana merilis fitur berbasis AI untuk memberikan pengalaman baru bagi pendengar musik. (Ilustrasi: AI)

Spotify sedang menyiapkan babak baru dalam cara kita mengonsumsi musik. Platform raksasa ini tengah menggodok fitur berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan pengguna mengutak-atik lagu favorit mereka sesuka hati.

Anda bisa mengubah tempo, merombak aransemen, hingga menukar vokal asli dengan suara lain. Semua ini nantinya bakal tersedia sebagai fitur tambahan berbayar, di luar biaya langganan standar 12,99 dolar AS yang sudah ada.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Data survei konsumen Q1 2026 dari MIDiA Research menunjukkan lonjakan keinginan pendengar untuk terlibat lebih jauh dalam produksi musik. Sebanyak 54 persen responden mengaku tertarik memodifikasi audio.

Bahkan, angkanya meledak hingga 80 persen jika kita hanya melihat kelompok anak muda usia 16 sampai 19 tahun. Bagi pendiri MIDiA Research, Mark Mulligan, aktivitas ini bukan sekadar main-main. Ia melihatnya sebagai bentuk ekspresi penggemar yang sesungguhnya di masa depan.

Gejolak di Kalangan Musisi

Tapi, panggung bagi penggemar ini menciptakan kegelisahan di balik layar. Musician’s Union di Inggris menjadi salah satu pihak pertama yang bersuara lantang. Naomi Pohl, Sekretaris Jenderal organisasi tersebut, langsung menagih kejelasan nasib artis.

Ia mempertanyakan bagaimana skema pembayaran royalti nanti, terutama bagi para musisi yang terikat kontrak label independen sebelum teknologi AI berkembang sepesat sekarang. Pertanyaan ini mendasar. Sangat mendasar.

Persoalan royalti memang menjadi bom waktu. Selama ini, sistem pembagian hasil di Spotify terpusat dalam satu kolam besar. Ujung-ujungnya, musisi dengan jumlah streaming tertinggi selalu menjadi yang paling kenyang.

Musisi sesi atau penampil latar sering kali harus gigit jari karena sistem yang ada sekarang saja belum cukup adil bagi mereka. Bagaimana jika lagu yang sudah dimodifikasi oleh pengguna mulai beredar luas?

Apakah sang pencipta asli masih akan mendapatkan kompensasi yang layak, atau justru hak moral mereka tergerus oleh hasil olahan mesin?

Kecemasan ini diperkuat oleh sikap PRS for Music. Organisasi hak cipta ini menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak boleh menabrak integritas karya seniman. Jangan sampai karena mengejar kenyamanan pengguna, orisinalitas karya asli justru terpinggirkan oleh luapan hasil olahan AI yang masif dan tak terkendali.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 9 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis