Senin, 14 September 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Menanti Pemulihan Angkutan Udara Domestik, Terganjal Karhutla-Abu Vulkanik hingga Harga Avtur

Menanti Pemulihan Angkutan Udara Domestik, Terganjal Karhutla-Abu Vulkanik
Menanti Pemulihan Angkutan Udara Domestik, Terganjal Karhutla-Abu Vulkanik

JAKARTA — Sektor penerbangan domestik Indonesia masih terengah-engah menuju pemulihan penuh. Lima tahun usai pandemi Covid-19, jumlah penumpang yang diangkut maskapai nasional baru mencapai 80% dari level 2019.

Kenyataan ini terungkap dari data asosiasi industri yang menunjukkan sederet hambatan: kebakaran hutan, abu vulkanik, lonjakan harga avtur, hingga regulasi tarif yang membuat maskapai kesulitan bernapas.

Data Indonesia National Air Carriers Association (INACA) per Juni 2026 mencatatkan penumpang domestik turun ke 63,63 juta pada 2025, lebih rendah dari 65,82 juta tahun sebelumnya. Dibanding 2019 yang mencapai 79,47 juta penumpang, sektor ini masih terpaut 15,84 juta penumpang.

Pertumbuhan Melambat, Target Puih Tertunda hingga 2030

Proyeksi INACA untuk 2026 hanya menargetkan pertumbuhan 65,54 juta penumpang (82,47% recovery rate). Angka itu memang naik dari 2025, tetapi masih jauh dari level pra-pandemi. Pemulihan penuh baru diperkirakan terjadi pada 2030, ketika jumlah penumpang mencapai 84,29 juta atau 106,07% dari 2019.

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase plateau setelah pertumbuhan tinggi di 2022-2023. “Kalau bisa tumbuh 3% ya ajaib tahun ini, tetapi kami masih yakin bisa tumbuh sebesar 2% dengan adanya koreksi dari terjadinya disaster,” ujarnya kepada Bisnis.

Penurunan penumpang sejalan dengan berkurangnya armada aktif dan frekuensi penerbangan domestik. Maskapai cenderung mengarahkan pesawat ke rute internasional yang dinilai memiliki lebih sedikit batasan regulasi.

Ditambah lagi, kejadian kebakaran hutan dan lahan serta penutupan bandara akibat abu vulkanik tidak diperhitungkan dalam analisis sebelumnya—potensi ini bakal semakin menekan angka penumpang.

Maskapai Banting Setir: Kualitas Sebelum Pertumbuhan Kuantitas

Indonesia AirAsia, misalnya, masih menjadi bukti nyata stagnasi. Pada 2019, maskapai beroperasi dengan 28 pesawat mengangkut 8 juta penumpang. Sepanjang 2025, kapasitas turun drastis: hanya 5,91 juta penumpang, dan pada semester pertama 2026 tercatat 2,83 juta penumpang dengan tingkat keterisian 82%.

Director Indonesia Affairs and Strategic Communications Indonesia AirAsia Eddy Krismeidi Soemawilaga menerangkan strategi berbeda.

“Kami melihat pemulihan bukan hanya sebagai upaya mengembalikan jumlah penerbangan atau penumpang ke level 2019, tetapi membangun kembali operasi yang lebih sehat dan efisien,” katanya.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 14 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online